Langkah Konkret dan Kerangka Aksi Lapangan
Dalam forum tersebut, pembahasan tidak hanya berhenti pada teori, tetapi merambah pada kerangka aksi siap terapkan di daerah:
– Integrasi Tata Ruang Berbasis Risiko: Pemerintah daerah diimbau memperhatikan daya dukung serta daya tampung lingkungan berbasis data iklim BMKG dalam merancang RTRW.
– Pengelolaan Sampah Terpadu: Penanganan difokuskan dari hulu ke hilir—mulai dari pengurangan, pemilahan warga, hingga teknologi pengolahan sampah modern.
Baca Juga:Dilema Segmen 8, Giant Sea Wall Cirebon Jangan Gulung Nasib NelayanPerisai Pesisir Cirebon: Menguji Urgensi Giant Sea Wall di Tengah Ancaman Rob dan Sektoral Garis Pantai
– Perlindungan Kawasan Pesisir & Air Tanah: Pengendalian ekstraksi air tanah serta penguatan benteng hijau pesisir guna menekan laju abrasi dan penurunan tanah.
– Ruang Terbuka Hijau & Transportasi Ramah Lingkungan: Memperbanyak RTH penyerapan air dan menggerakkan opsi transportasi publik rendah emisi.
Menerjemahkan Forum Jadi Kebijakan Warga
Keikutsertaan Pemkot Cirebon dalam Mayors Talk 2026 menjadi modal penting untuk menyerap praktik terbaik dari kota-kota lain. Namun, Effendi Edo menegaskan hasil dari Bogor harus segera berwujud aksi nyata.
”Kita bisa belajar dari pengalaman kota lain dan sekaligus berbagi apa yang sudah dilakukan di Cirebon,” ungkapnya.
Ia mengingatkan, hasil diskusi forum tidak boleh mengendap di meja rapat, melainkan harus diterjemahkan menjadi kebijakan yang dampaknya terasa langsung oleh warga.
“Yang kita bangun adalah kota yang nyaman dan aman untuk masyarakat. Setiap kebijakan pembangunan harus melihat bagaimana lingkungan tetap terjaga dan warga semakin siap menghadapi perubahan,” tutup Effendi Edo.(*)
