CIREBONINSIDER.COM— Arus informasi liar di media sosial sering kali membingungkan warga desa. Menjawab ancaman hoaks yang makin agresif, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jawa Barat mengambil strategi tajam: menjadikan warga lokal sebagai ujung tombak kebenaran informasi.
Melalui program KIM Jabar Pinter Digital, puluhan anggota Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Indramayu resmi digembleng dalam Bimbingan Teknis Literasi Digital di Aula KPRI Mekarjaya, Widasari.
Fokus utamanya bukan cuma sosialisasi. Langkah ini menggeser peran warga: dari sekadar penonton media sosial menjadi pengolah berita lokal yang kritis, faktual, dan tepercaya.
Baca Juga:Isu Harga BBM Naik Per 21 September Dipastikan Hoaks, Pertamina Buka Suara!Pusaran Hoaks Korupsi Makan Bergizi Gratis: Mengapa Nama Kepala BGN Dicatut? Ini Fakta Riilnya!
Bukan Sekadar Pembaca, tapi Filter Pertama di Lapangan
Di era algoritma serba cepat, kabar bohong kerap menyebar tanpa batas. Posisi KIM yang langsung bersentuhan dengan masyarakat menjadikan mereka garda terdepan untuk meredam simpang siur isu lokal.
Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Diskominfo Jabar, Nidar Nadrotan Naim Sujana, menegaskan bahwa kemudahan akses internet wajib diimbangi kecerdasan menyaring data.
”Kemudahan teknologi harus diimbangi daya kritis. Informasi jangan ditelan mentah-mentah lalu disebar tanpa dipahami dulu kebenarannya. KIM harus menjadi filter pertama di akar rumput,” ujar Nidar.
Dua Arah: Jembatan Aspirasi dan Kebijakan
Kecakapan digital ini diproyeksikan untuk membangun jalur komunikasi dua arah yang hidup. KIM tidak lagi bergerak satu arah, melainkan bertindak sebagai penghubung organik antara masyarakat dan pemerintah.
– Aspirasi Desa ke Pemerintah: KIM menyuarakan fakta kondisi lapangan, potensi ekonomi, hingga aduan warga secara akurat tanpa manipulasi data.
– Kebijakan ke Masyarakat: Program dan kebijakan pemerintah ditranslasikan ke dalam bahasa yang sederhana, jernih, dan mudah dipahami warga.
Kehadiran KIM yang cakap literasi memastikan informasi publik tidak terdistorsi di tengah jalan.
Mengapa Langkah Ini Krusial bagi Indramayu?
Baca Juga:Lawan Gempuran AI: Festival Literasi Cirebon 2025 Genjot Literasi Digital untuk Cirebon Setara 2029Indramayu Gencarkan Literasi Digital Wajib di Sekolah, Lawan Hoaks dan Perkuat Citra Positif Pendidikan
Sebagai daerah dengan dinamika pesisir, pertanian, dan arus pekerja yang tinggi, Indramayu kerap menjadi sasaran empuk disinformasi—mulai dari isu bantuan sosial, bencana alam, hingga kebijakan daerah.
Penguatan literasi digital ini membawa dampak nyata bagi wilayah lokal:
Pertama, Ekskalasi Isu Cepat Meredas: Isu sensitif seputar bansos atau kondisi cuaca ekstrem dapat divalidasi dengan cepat di tingkat RT/RW.
