CIREBONINSIDER.COM— Ekonomi Jawa Barat sedang berlari kencang. Pada triwulan II-2026, laju ekonominya melonjak hingga 5,73 persen secara tahunan (year-on-year).
Angka ini berada di atas rata-rata nasional. Sebuah bukti nyata bahwa mesin ekonomi Jawa Barat terus ngegas.
Namun, di balik capaian mentereng tersebut, ada tenggat waktu krusial yang tak boleh diabaikan: Bonus Demografi 2025–2030.
Baca Juga:Sisa Kas Jabar Rp500 Ribu, Sekda Herman Suryatman Bongkar Strategi Belanja Agresif Era Dedi MulyadiSekda Jabar Patok September 2026 Eksekusi Program 3 Juta Rumah
Jika masa emas lima tahun ini terlewat begitu saja, Jawa Barat berisiko terjebak dalam perangkap ekonomi (middle-income trap).
Peringatan tegas itu dilempar Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, saat membuka Rapat Kerja Daerah (Rakerda) DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Jabar di Hotel Horison, Kota Bekasi, Senin (28/9/2026) sore.
Pesan Herman sangat menohok. Pelaku usaha lokal diminta tak lagi sibuk bernostalgia atau bertahan di zona nyaman. HIPPI harus berani bergerak cepat, naik kelas, dan merangkul semua elemen.
Ekspansi atau Tergilas: Peluang Emas di Empat Sektor
Laju pertumbuhan ekonomi Jawa Barat saat ini disokong oleh empat pilar utama:
– Belanja Pemerintah (government spending) yang terus mengalir.- Konsumsi Masyarakat yang makin bergairah.- Realisasi Investasi yang konsisten masuk.
Aktivitas Ekspor-Impor yang kembali hidup.
Ruang gerak bagi pengusaha pribumi sebenarnya terbuka lebar. Masalahnya kini tinggal satu: apakah pengusaha lokal siap menangkap peluang tersebut, atau justru membiarkan pemain luar mengambil alih?
Herman menegaskan, fondasi makroekonomi Jabar sudah sangat kokoh untuk ekspansi bisnis. Sekarang, bola panas ada di tangan dunia usaha.
Baca Juga:Sisa Kas Jabar Rp500 Ribu, Sekda Herman Suryatman Bongkar Strategi Belanja Agresif Era Dedi MulyadiLawan Kemiskinan dari Pekarangan: Sinergi Sekda Jabar dan Mahasiswa Unpad di Indramayu
”Silakan ambil peluang di sektor government, konsumsi, investasi, bahkan ekspor-impor. Ruang sangat terbuka,” tegas Herman.
Jendela Sempit 2025–2030: Tak Ada Kesempatan Kedua
Poin paling krusial dalam peta jalan ekonomi Jawa Barat adalah pemanfaatan bonus demografi. Periode 2025–2030 menjadi pertaruhan hidup-mati bagi produktivitas daerah.
Melimpahnya warga usia produktif bisa menjadi berkah luar biasa. Namun, tanpa penyerapan tenaga kerja yang masif dan penciptaan lapangan kerja baru dari sektor swasta, bonus demografi berpotensi menjadi bumerang sosial.
”Mumpung ada momentum bonus demografi 2025–2030. Kalau lepas, momentumnya hilang. Manfaatkan lima tahun ke depan sebaik-baiknya,” ujar Herman.
