Menjawab persoalan tersebut, Kepala Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kabupaten Cirebon, Novi Hendrianto, menyiapkan skema bantalan berupa pelatihan vokasi terintegrasi. Berkolaborasi dengan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP), para pekerja terdampak langsung dibekali keahlian terapan.
Proses pelatihannya dirancang intensif selama lima hari. Tidak sekadar diberi teori dan praktik, setiap peserta juga disokong dengan fasilitas penuh: uang saku Rp140 ribu per hari, makan harian, hingga jaminan transportasi dari balai.
Langkah ini disiapkan sebagai shock absorber agar pekerja yang baru saja kehilangan mata pencaharian tidak langsung terdesak mengambil keputusan nekat menjadi PMI ilegal.
Baca Juga:Aduan Kasus Meledak di Kantong PMI Cirebon, Antara Ancaman Jalur Tikus dan Janji Pabrik LokalSiasat Kota Cirebon Sumbat Rantai TPPO, Benteng Perlindungan PMI Dimulai dari Akar Rumput
Mengunci Masa Depan Industri Cirebon Timur
Kawasan Cirebon Timur kini terus didorong menjadi simpul pertumbuhan ekonomi baru. Sejumlah pabrik dan manufaktur skala besar mulai berdiri dan membuka rekrutmen secara bertahap.
Kunci utamanya kini ada pada penyelarasan (link and match): memastikan kualifikasi tenaga kerja lokal benar-benar terserap oleh industri baru tersebut.
Selagi jembatan kualitas itu terus dibangun, memperketat proteksi calon PMI legal dan menindak tegas jaringan calo ilegal menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar bagi Pemkab Cirebon.(*)
