CIREBONINSIDER.COM – Potensi ekonomi syariah Indonesia kembali menjadi sorotan tajam. Di balik angka-angka makro yang memukau, tersimpan jurang pemisah yang lebar di tingkat akar rumput.
Aset keuangan syariah nasional kini menembus angka fantastis: Rp3.131 triliun. Angka ini menempatkan Indonesia di peringkat keempat dunia. Tak hanya itu, Indonesia menduduki posisi puncak dunia untuk Muslim Modest Fashion serta mengantongi 4,4 juta sertifikat halal bagi pelaku usaha.Namun, fakta di lapangan menunjukkan ruang kontradiksi.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa indeks inklusi keuangan syariah masih tertahan di angka 13,14 persen. Angka ini berbanding terbalik dengan inklusi keuangan nasional yang sudah menyentuh 93,61 persen.
Baca Juga:Gebrakan Menag Nasaruddin Umar: Bentuk LPDU, Ingatkan Pakar Ekonomi Syariah Tak 'Kebablasan' LiberalKeuangan Syariah Lebih Resilient terhadap Gejolak Ekonomi Ketimbang Konvensional, BI Ungkap Fakta Ini
”Literasi dan akses masyarakat terhadap produk keuangan syariah masih menjadi PR besar yang harus terus kita dorong,” tegas Airlangga saat memberikan Orasi Ilmiah pada Sidang Senat Terbuka Wisuda Universitas PTIQ Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Keadilan Sosial dan Nilai Al-Qur’an
Menko Airlangga menyoroti pentingnya membawa asas fundamental Al-Qur’an—yaitu Keadilan (‘Adl) dan Keseimbangan (Mizan)—ke dalam tata kelola perekonomian. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tidak boleh hanya bertumpu pada angka statistik, melainkan harus berdampak langsung pada daya beli rakyat.
Data per Maret 2026 mencatat tingkat kemiskinan nasional berada di angka 8,07 persen, berkurang sekitar 926 ribu jiwa dibanding tahun sebelumnya. Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka tercatat sebesar 4,65 persen, dengan rasio Gini di posisi 0,368.
Guna menekan angka ketimpangan, pemerintah menggelontorkan 28 program perlindungan sosial. Skema ini mencakup Program Indonesia Pintar untuk 22 juta siswa, Makan Bergizi Gratis bagi 74 juta penerima, hingga bantuan iuran BPJS Kesehatan untuk 96,8 juta jiwa.
Sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, perluasan akses perbankan syariah juga digenjot melalui jaringan Bank Syariah Indonesia (BSI) dan BRI.
Pesan Menko: Lulusan Perguruan Tinggi Jangan Gagap AI
Menghadapi tantangan disrupsi, Airlangga mendorong para sarjana dan pascasarjana untuk tidak sekadar menjadi penonton. Integrasi antara nilai-nilai keagamaan, ekonomi, dan pemanfaatan teknologi menjadi kunci utama.
Ia menitipkan tiga langkah strategis bagi kaum terpelajar:
Pertama, Penyelesai Masalah: Masuk ke dalam ruang kebijakan dengan membawa nilai-nilai keberlanjutan dan keadilan.
