CIREBONINSIDER.COM – Eskalasi konflik militer antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat kini tidak hanya mengancam keamanan wilayah Timur Tengah, tetapi juga memicu alarm bahaya bagi ketahanan pangan global.
Krisis ini diprediksi akan menciptakan tekanan harga pangan dunia yang jauh lebih destruktif dibandingkan dampak perang Rusia-Ukraina yang hingga kini belum sepenuhnya reda.
Anggota Komisi IV DPR RI, Riyono, menegaskan bahwa dunia kini berada di ambang “bencana” kelaparan yang sangat serius.
Baca Juga:Uji Nyali Ketahanan Pangan 2026: Di Balik Klaim 'Aman' 324 Hari dan Bayang-bayang El NinoPerkuat Ketahanan Pangan, Wabup Indramayu Salurkan Zakat Mal Pertanian di Desa Babadan
Ketidakpastian geopolitik memaksa negara-negara produsen pangan dunia untuk mengambil langkah proteksionis—yakni menahan stok komoditas demi kebutuhan domestik mereka sendiri.
Kegagalan SDGs 2030 dan Ancaman Kelaparan Global
Ambisi besar dunia melalui Sustainable Development Goals (SDGs) poin kedua—yakni mengakhiri kelaparan pada tahun 2030—kini terancam gagal total untuk kedua kalinya.
Pergeseran ekstrem peta politik dunia serta terganggunya jalur distribusi logistik internasional menjadi pemicu utamanya.
”Dunia terbukti gagal mengatur sirkulasi pangan global. Perang yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat secara langsung meningkatkan risiko kelaparan bagi satu miliar penduduk bumi,” ungkap Riyono dalam pernyataan resminya, Minggu (29/3/2026).
Politisi dari Fraksi PKS ini juga menyoroti fenomena pangan yang kini bertransformasi menjadi “senjata mematikan”.
Instrumen dasar hidup manusia ini seringkali dijadikan alat tawar politik untuk menguasai negara lain melalui ketergantungan impor, sementara para petani sebagai produsen utama justru terjebak dalam kemiskinan sistemik.
3 Langkah Strategis Membentengi ‘Meja Makan’ Rakyat
Untuk mengantisipasi imbas buruk krisis global terhadap Indonesia, Riyono mendesak pemerintah agar segera menjalankan tiga poin krusial berikut:
Baca Juga:TEROBOSAN CIREBON: Rp3,5 Miliar untuk Koperasi Kelurahan, Motor Ekonomi Lokal dan Pilar Ketahanan PanganPetani Indramayu Menjadi Garda Terdepan Ketahanan Pangan Berbasis Lingkungan
1. Manajemen Risiko Stok Beras: Cadangan beras nasional yang kini telah menembus angka 4 juta ton harus diawasi dengan ketat. Riyono memperingatkan agar tidak ada penurunan kualitas atau kebocoran stok di tengah situasi darurat internasional.
2. Proteksi Harga dan Asuransi Petani: Stabilitas harga Gabah Kering Panen (GKP) dan jagung harus dijaga agar tetap menguntungkan petani di akar rumput. Selain itu, pemerintah didorong untuk segera memperluas skema asuransi pertanian guna menghadapi risiko gagal panen akibat cuaca ekstrem.
