Ekspor Jabar Terjepit Konflik Iran-Israel: 10 Kontainer Tekstil Tertahan, Stok Gudang Melimpah

Disperindag-Jawa-Barat
Fasad Gedung Kantor Disperindag Jawa Barat (INDAG JABAR) dengan ornamen batik hijau dan tiang oranye, tempat koordinasi kebijakan perdagangan Jabar. Foto: Humas Pemprov Jabar

CIREBONINSIDER.COM – Eskalasi konflik geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat mulai mengirimkan gelombang kejut ke sektor riil Jawa Barat. Bukan sekadar isu politik luar negeri, dampak nyata kini mencekik para eksportir lokal: biaya logistik meroket, proteksi asuransi dicabut, hingga tumpukan stok barang yang gagal kirim ke Timur Tengah.

​Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat, Nining Yuliastiani, mengungkapkan situasi mengkhawatirkan yang menimpa industri manufaktur, khususnya sektor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT).

​”Kami menerima laporan salah satu perusahaan TPT di Jawa Barat harus menunda pengiriman hingga 10 kontainer ke kawasan Timur Tengah. Pembeli di sana meminta penangguhan karena situasi tidak menentu, akibatnya stok menumpuk di gudang pabrik,” ujar Nining dalam keterangannya, Selasa (17/3/2026).

Baca Juga:Ekonomi Indonesia Kebal Guncangan? Strategi 'Shock Absorber' Prabowo-Airlangga di Tengah Perang AS-Israel-IranDilema Selat Hormuz: Antara Mudik Lebaran dan Bayang-Bayang Perang AS-Iran 2026

​Tiga Hantaman Utama bagi Eksportir Jabar

​Berdasarkan pemantauan lapangan, Pemdaprov Jabar mengidentifikasi tiga kendala krusial yang saat ini membayangi arus perdagangan internasional:

– ​Anomali Logistik: Durasi pengiriman yang membengkak memicu lonjakan biaya operasional (freight) dan menghambat pasokan bahan baku impor.

– ​Krisis Proteksi: Pihak asuransi mulai enggan memberikan perlindungan (cover) untuk pengiriman ke wilayah konflik karena profil risiko yang dinilai terlalu tinggi.

– ​Penangguhan Order: Mitra dagang di Timur Tengah mulai goyah dan memilih menunda penerimaan barang hingga situasi keamanan stabil.

​Strategi ‘Pasar Nontradisional’ dan Intelijen Pasar

​Menyikapi badai ini, Pemdaprov Jabar bergerak cepat melalui strategi diversifikasi pasar. Fokus ekspor kini digeser ke negara-negara nontradisional guna memutus ketergantungan pada wilayah terdampak konflik.

​”Kami aktif menjembatani pelaku usaha melalui business pitching secara daring dengan target pasar baru. Langkah ini melibatkan sinergi Atase Perdagangan dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) di berbagai negara,” tegas Nining.

​Selain itu, Jabar memaksimalkan peran 14 Instansi Penerbit Surat Keterangan Asal (IPSKA) di kabupaten/kota untuk mempercepat dokumen Certificate of Origin (COO).

Baca Juga:Dampak Perang AS-Iran Menghantui, DPR Desak Pemerintah Relaksasi Kebijakan Industri MaminGuncang Dunia! Komisi I DPR RI Desak PBB Sanksi AS-Israel Pasca Tewasnya Pemimpin Iran

Tujuannya, agar pengusaha tetap bisa menikmati skema preferensi tarif internasional meskipun jalur logistik sedang bergejolak.

​Opsi Darurat: ‘Buang’ ke Pasar Lokal

​Salah satu poin kritis yang kini sedang dipertimbangkan serius adalah usulan dari Asosiasi Pengusaha Kawasan Berikat (APKB).

0 Komentar