Substitusi Aktivitas: Kembali ke Permainan Fisik
Sementara itu, Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi), Andik Matulessy, mengingatkan pentingnya menyediakan aktivitas pengganti (substitution).
Menurutnya, anak-anak terjebak di media sosial karena minimnya pilihan kegiatan menarik di dunia nyata.
”Waktu terbanyak anak selain di keluarga adalah di sekolah. Kurikulum perlu menambahkan kegiatan fisik dan permainan tradisional agar anak tidak hanya terpaku pada gawai,” saran Andik.
Baca Juga:Workshop Perlindungan Perempuan, Upaya Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak di Kota CirebonHarganas dan HAN 2024, Pemkot Cirebon Komitmen Tingkatkan Kualitas Keluarga dan Perlindungan Anak
Implementasi PP Tunas diharapkan tidak hanya berhenti sebagai aturan birokrasi, melainkan berkembang menjadi gerakan sosial.
Sinergi antara pemerintah sebagai regulator, sekolah sebagai pendidik, dan orang tua sebagai pendamping utama menjadi kunci sukses menyelamatkan generasi mendatang dari dampak negatif ruang digital.(*)
