Antrean Pesanan Bedug Cirebon Mengular, Raden Hasan Basori Dorong Transformasi ke Wisata Religi

Bedug-Cirebon
​Perajin bedug di Desa Lebak Mekar Cirebon sedang memasang kulit kerbau pada rangka kayu jati besar untuk pesanan masjid luar kota saat Ramadan 2026. Foto: Humas DPRD Kab Cirebon

CIREBONINSIDER.COM — Di tengah gempuran teknologi pengeras suara digital, suara dentum bedug (beduk dalam bahasa Cirebon) kayu tetap menjadi primadona yang tak tergantikan di hati umat.

Memasuki pertengahan Ramadan 1447 H / 2026 M, para perajin bedug di Kabupaten Cirebon melaporkan lonjakan permintaan yang luar biasa, membuktikan bahwa tradisi tetap memiliki nilai ekonomi yang tangguh.

​Jejak Wali Songo dalam Balutan Kulit Peredam

​Fenomena ini bukan sekadar transaksi musiman. Wakil Ketua DPRD Kabupaten Cirebon, Raden Hasan Basori, melihat ada denyut sejarah yang kembali berdetak kencang. Ia menegaskan bahwa bedug adalah entitas budaya yang melekat erat dengan strategi dakwah Wali Songo di tanah Jawa.

Baca Juga:Cirebon Jadi Pilot Project Wisata Lebaran 2026: Menpar Bocorkan Diskon Tiket KA 30% dan Strategi Rp190 TriliunKDM Sentil Potensi Tambang: Garut Harus Hidup dari Pariwisata, Bukan Merusak Alam!

​“Cirebon memiliki akar historis yang sangat kuat. Penggunaan bedug memiliki relevansi langsung dengan jejak dakwah para wali, dan kita adalah titik sentral sejarah tersebut,” ujar Hasan secara kritis saat meninjau potensi lokal, Sabtu (14/3/2026).

​Hasan menilai, sudah saatnya Pemerintah Daerah tidak hanya melihat bedug sebagai produk UMKM biasa. Ia mendorong penciptaan ekosistem wisata budaya yang terintegrasi.

“Jika dikemas dengan narasi yang kuat, Cirebon bukan hanya produsen, tapi destinasi wisata religi tempat orang melihat langsung proses pembuatan warisan budaya ini,” tambahnya.

​Lebak Mekar Kewalahan: Pesanan Masuk, Produksi ‘Lockdown’

​Sentra produksi di Desa Lebak Mekar, Kecamatan Greged, kini menjadi titik tersibuk. Muhamad Maksugi, pemilik Bedug Lokanata Arta, mengaku terpaksa menolak banyak pesanan karena kapasitas produksi yang sudah melampaui batas (overload).

​“Rata-rata pemesan ingin barang sampai sebelum Idulfitri. Sejak awal Ramadan pesanan datang tanpa henti, hingga pertengahan bulan ini kami terpaksa tidak menerima order baru agar kualitas tetap terjaga,” jelas Maksugi di bengkel produksinya.

​Hal senada diungkapkan Dedi Rosadi, pemilik Faridah Bedug. Meski permintaan tinggi mendatangkan omzet besar, tantangan pemenuhan target waktu menjadi ujian berat bagi para perajin lokal.

​Inovasi Digital: Pesan Online, Bayar di Tempat (COD)

​Keunikan Bedug Cirebon di tahun 2026 terletak pada kelincahan digitalnya. Meski memproduksi barang tradisional, sistem pemasarannya sudah menyentuh level marketplace global.

0 Komentar