Selat Hormuz Diblokade, Pengamat UI Ungkap 'Benteng' Inflasi Pangan Ramadan 2026

Ninasapti-Triaswati-Pakar-Ekonomi-UI
Ninasapti Triaswati Pakar Ekonomi UI memberikan analisis inflasi pangan Ramadan 2026 dan dampak konflik Selat Hormuz. Foto: Humas Kementan RI

CIREBONINSIDER.COM– Di tengah eskalasi konflik di Iran yang berujung pada penutupan jalur vital Selat Hormuz, stabilitas ekonomi domestik Indonesia menghadapi ujian baru.

Namun, sektor pangan nasional justru menunjukkan resiliensi yang mengejutkan tepat di tengah momentum Ramadan 2026.

​Pakar Ekonomi Pertanian Universitas Indonesia (UI), Ninasapti Triaswati, menyebut terkendalinya inflasi pangan di angka 0,68% pada Februari 2026 sebagai capaian krusial.

Baca Juga:Indramayu Siaga Satu Pangan: Strategi Tekan Inflasi Jelang Ramadan 1447 H, Stok Beras Dipastikan Melimpah!Wawali Cirebon Sebut Ancaman Inflasi Bukan Cuma Pangan, Minta Harga Kebutuhan Dasar Lain Ikut Dikendalikan

Angka ini menjadi “penyangga” utama di tengah tekanan biaya logistik global yang mulai merangkak naik akibat krisis energi.

​Resiliensi Ramadan: Melawan Tren Historis

​Secara historis, bulan suci Ramadan hampir selalu identik dengan lonjakan harga pangan yang tajam. Namun, data tahun ini menunjukkan anomali positif yang signifikan.

Inflasi Februari 2026 sebesar 0,68% tercatat jauh lebih rendah dibandingkan periode Ramadan April 2022 yang mencapai 0,95%, bahkan sangat jauh di bawah lonjakan Maret 2025 yang sempat menembus angka 1,65%.

​”Sektor pangan tahun ini bukan menjadi sumber tekanan inflasi utama, melainkan kekuatan penyangga. Pasokan memadai dan distribusi berjalan lancar,” ujar Ninasapti dalam keterangannya, Senin (2/3/2026).

​Ancaman Eksternal: Logistik di Ujung Tanduk

​Meski stok pangan domestik melimpah, Ninasapti memberikan peringatan keras terkait variabel eksternal yang bersifat dinamis.

Penutupan Selat Hormuz menjadi faktor penentu (wild card) yang dapat mengubah peta inflasi dalam sekejap melalui jalur energi.

​”Inflasi itu dinamis. Penutupan Selat Hormuz mendorong kenaikan harga minyak dunia. Karena Indonesia masih mengimpor BBM, otomatis biaya transportasi dan logistik pangan dari desa ke kota ikut naik,” tegas Ninasapti.

Baca Juga:Guncang Dunia! Komisi I DPR RI Desak PBB Sanksi AS-Israel Pasca Tewasnya Pemimpin IranRenja Kota Cirebon 2027: Antara Ambisi Pangan Rp23 Miliar dan Target Nol Kawasan Kumuh

​Menurutnya, efisiensi distribusi saat ini sangat bergantung pada stabilitas harga energi.

Jika jalur perdagangan energi global terganggu, margin keuntungan petani akan tergerus oleh ongkos kirim yang membengkak, yang pada akhirnya membebani konsumen akhir.

​Struktur Inflasi: Komoditas Utama Tetap ‘Jinak’

​Data Badan Pusat Statistik (BPS) periode Februari 2026 memperkuat narasi stabilitas ini. Tercatat, tidak ada satu pun komoditas pangan utama yang menyentuh angka psikologis 1 persen.

​Andil kenaikan harga tertinggi dipimpin oleh daging ayam ras sebesar 0,09%, disusul cabai rawit di angka 0,08%, dan ikan segar sebesar 0,05%.

0 Komentar