CIREBONINSIDER.COM– Arus balik kedaulatan pangan Indonesia mulai menunjukkan taji. Langkah ekstrem pemerintah menghentikan impor dan merombak total tata kelola pangan nasional disebut sebagai “serangan jantung” bagi para mafia pangan.
Pengamat kebijakan publik, Muhammad Said Didu, menegaskan bahwa ini bukan sekadar urusan teknis administrasi, melainkan perang terbuka melawan praktik ‘Serakahnomics’—sebuah skema ekonomi yang hanya menggemukkan kantong oligarki di atas penderitaan petani.
”Kebijakan setop impor ini secara telak memutus jalur keuntungan haram para pemain lama yang selama ini berpesta di atas ketergantungan pangan kita. Ini keberanian yang mutlak untuk kedaulatan negara,” tegas Said Didu dalam keterangan resminya, Sabtu (24/01/2026).
Baca Juga:Kendalikan Harga Ayam dan Telur, Kementan Intervensi Stok Jagung SPHP Lewat Skema Satu HargaMentan Amran Tegas Copot Eselon II dan III di Subang, Sewakan secara Ilegal Lahan Kementan 299 Hektare
Instruksi Presiden: Mentan Amran ‘Pasang Badan’
Dalam skenario besar ini, Said Didu menyoroti peran Menteri Pertanian Amran Sulaiman sebagai ujung tombak. Presiden memberikan mandat khusus kepada Mentan Amran untuk bertindak sebagai “buldoser” yang melibas manipulasi pasar.
Salah satu bukti nyata adalah penertiban masif terhadap 212 merek beras nakal dari total 268 yang diawasi. Mereka terbukti memanipulasi kualitas, berat, hingga melanggar Harga Eceran Tertinggi (HET).
”Modus lama adalah mengemas beras medium menjadi premium. Ada selisih margin hingga Rp5.000 per kilogram atau hampir 40 persen. Mentan Amran berdiri di garda depan mengawasi ini agar tidak ada lagi monopoli pengolahan oleh segelintir raksasa,” ungkap Didu.
Efek Domino: Indonesia Rajai Produksi ASEAN
Hasil dari kebijakan “tangan besi” ini bukan sekadar angka di atas kertas. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan proyeksi USDA (Departemen Pertanian AS), Indonesia kini sah menjadi pemimpin pangan di Asia Tenggara:
– Puncak ASEAN: Produksi beras Indonesia musim 2024/2025 menembus 34,6 juta ton, menyalip Thailand dan Vietnam.
– Stok Melimpah: Awal 2026, stok beras nasional meroket ke angka 12,53 juta ton—naik tajam 49,2% secara tahunan (year-on-year).
– Swasembada Jagung: Indonesia mencatat surplus 0,46 juta ton jagung pakan, yang secara otomatis menutup pintu impor rapat-rapat.
Baca Juga:TEROBOSAN CIREBON: Rp3,5 Miliar untuk Koperasi Kelurahan, Motor Ekonomi Lokal dan Pilar Ketahanan PanganPetani Indramayu Menjadi Garda Terdepan Ketahanan Pangan Berbasis Lingkungan
Anatomi Kesejahteraan: Rekor NTP Tertinggi 33 Tahun
Keberhasilan ini berdampak langsung pada nadi kehidupan petani. Nilai Tukar Petani (NTP) per Desember 2025 mencapai 125,35, angka tertinggi sepanjang sejarah dalam 33 tahun terakhir.
