Gebrakan 2026: Menkeu Purbaya Siapkan Pasar Modal Jadi Mesin Utama Ekonomi RI

Menkeu-Purbaya-Yudhi-Sadewa
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa. Foto: Screenshot/IG Purbaya Yudhi Sadewa

​CIREBONINSIDER.COM – Mengawali kalender ekonomi tahun 2026, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secara resmi membuka perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Jumat (2/1).

Kehadiran jajaran tertinggi otoritas sektor keuangan ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah tengah menyiapkan pasar modal sebagai “mesin utama” penggerak pertumbuhan ekonomi nasional tahun ini.

​Momentum pembukaan perdagangan perdana ini tidak sekadar seremoni. Kehadiran tokoh-tokoh kunci menunjukkan adanya konsolidasi kebijakan yang solid untuk menghadapi tantangan pasar global.

Baca Juga:Resmi Ditutup! Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Beberkan Rapor Akhir APBN 2025: Dari Kemenhan hingga PMN BUMNRevisi UU P2SK, Purbaya Sebut BI Tak Hanya Fokus Stabilisasi tapi Wajib Dorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Berikut jajaran otoritas yang hadir:- ​Perry Warjiyo (Gubernur Bank Indonesia)- ​Mahendra Siregar (Ketua Dewan – Komisioner OJK)- ​Mukhamad Misbakhun (Ketua Komisi XI DPR RI)

​Sinergi KSSK: Bukan Sekadar Seremoni

​Analisis pasar melihat kehadiran lengkap para regulator dalam Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) sebagai upaya strategis membangun kepercayaan diri pasar (market confidence).

Menkeu Purbaya menekankan bahwa 2026 harus menjadi titik balik bagi pasar modal Indonesia untuk lebih kompetitif di kancah regional.

​”Dengan sinergi seluruh stakeholder, pasar modal diharapkan tumbuh semakin kuat dan berdaya saing,” tegas Menkeu Purbaya.

​Pesan ini menyiratkan pergeseran paradigma: Pemerintah ingin pasar modal tidak hanya menjadi tempat “parkir dana” investor besar, tetapi juga mampu mengakselerasi pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.

​3 Pilar Fokus Pasar Modal 2026

​Dalam upaya mencapai target ambisius tersebut, pemerintah dan otoritas bursa akan berfokus pada tiga pilar strategis:

1. ​Demokratisasi Pendanaan

BEI dipacu untuk menjadi sumber pendanaan utama tidak hanya bagi korporasi raksasa, tetapi juga mendukung ekspansi UMKM melalui skema pendanaan yang lebih terukur dan aksesibel.

Baca Juga:ROSAN LIBATKAN MENKEU PURBAYA: Strategi Baru Indonesia di Meja Negosiasi Utang Whoosh ChinaMenkeu Purbaya Tolak Keras Legalisasi Thrifting Ilegal meski Pedagang Janji Bayar Pajak

2. ​Benteng Stabilitas Sektor Keuangan

Penguatan kolaborasi antara LPS, OJK, dan BI untuk memastikan volatilitas pasar tetap terjaga di tengah dinamika geopolitik global yang tidak menentu.

3. ​Matangnya Ekosistem Ekonomi Hijau

Optimalisasi Bursa Karbon sebagai instrumen keuangan masa depan yang semakin matang, transparan, dan mampu memberikan kontribusi nyata pada pendapatan negara.

​Tantangan Likuiditas di Tangan Direksi

​Optimisme Menkeu kini berada di tangan Direktur Utama BEI, Iman Rachman. Manajemen bursa dituntut mampu menerjemahkan visi pemerintah tersebut menjadi angka pertumbuhan yang nyata.

0 Komentar