CIREBONINSIDER.COM – Eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran di Timur Tengah kini bukan sekadar berita mancanegara bagi warga Ciayumajakuning. Dampak nyata mulai mendarat di pasar-pasar tradisional Cirebon dalam bentuk lonjakan harga plastik yang menembus angka 100 persen.
Komoditas yang menjadi tulang punggung pengemasan UMKM ini menjadi “korban” pertama akibat guncangan rantai pasok energi global yang kian tidak menentu.
Jeritan dari Pusat Grosir Cirebon
Pantauan di Pusat Grosir Cirebon (PGC) menunjukkan tren kenaikan harga yang sangat agresif. Munib, salah satu pedagang grosir besar, mengungkapkan bahwa harga plastik jenis PE (untuk es) dan PP melonjak drastis sejak awal April 2026.
Baca Juga:Muara Sampah Plastik di Pantai Baro Gebang, Bupati Cirebon Ultimatum Kebiasaan Buang Sampah ke SungaiPerang Iran-Israel Meletus, DPR Warning Potensi 'Kiamat' Pangan: Cadangan 4 Juta Ton Harus Dijaga Ketat!
”Kenaikannya luar biasa, hampir 100 persen. Plastik PE yang biasanya Rp32.000 sekarang tembus Rp51.000. Plastik PP juga sama, dari Rp24.000 jadi Rp40.000,” ujar Munib saat dikonfirmasi, Senin (6/4/2026).
Kondisi ini menciptakan dilema bagi pedagang grosir. Mereka ragu untuk menambah stok dalam jumlah besar karena fluktuasi harga yang liar, yang berisiko memicu kerugian telak jika harga pasar tiba-tiba berbalik arah.
UMKM di Persimpangan Jalan: Dilema Harga vs Daya Beli
Dampak paling getir justru dirasakan oleh para “pemain bawah” atau pedagang kuliner kecil. Alim, seorang penjual bubur ayam dan bakso keliling, mengaku biaya operasionalnya membengkak signifikan hanya dari sektor pengemasan.
”Plastik bungkus yang tadinya Rp8.000 sekarang Rp12.000. Kantong kresek juga naik dari Rp7.500 ke Rp12.500. Kami terjepit; mau naikkan harga makanan tapi takut pembeli kabur. Sekarang cari untung cuma buat jajan anak saja sudah syukur,” ungkap Alim lirih.
Mengapa Plastik Cirebon Terdampak Konflik Global?
Secara teknis, plastik adalah produk turunan petrokimia yang bahan baku utamanya sangat bergantung pada minyak bumi.
Ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran—jalur vital bagi 20% pasokan minyak dunia—telah mendorong harga minyak Brent melampaui US$90 per barel.Kondisi ini menciptakan tiga tekanan utama yang mulai merambat di Jawa Barat:
– Inflasi Sektoral: Kenaikan harga kemasan plastik memicu efek domino pada kenaikan bahan pokok lain, seperti gula pasir.
