CIREBONINSIDER.COM – Sebuah pergeseran besar tengah terjadi dalam peta kedaulatan energi Indonesia. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) secara taktis mulai mengalihkan ketergantungan impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) dan minyak mentah (crude) dari kawasan Timur Tengah ke Amerika Serikat (AS), Australia, hingga Afrika.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menegaskan langkah ini adalah bagian dari strategi “sabuk pengaman” nasional di tengah tensi geopolitik global yang sulit diprediksi.
Dominasi Amerika Serikat dan Strategi Mitigasi
Selama ini, Timur Tengah menjadi pilar utama pasokan energi dunia. Namun, Indonesia kini memilih jalan diversifikasi untuk menjamin dapur rakyat tetap mengepul tanpa bayang-bayang kelangkaan.
Baca Juga:Jembatan Energi di Tengah Samudra: Strategi Patra Niaga Tembus 57 Titik Buta IndonesiaEfek Domino Deal Prabowo-Lee di Seoul, Cirebon Bisa Jadi 'Pemain Kunci' Transisi Energi
Bahlil mengungkapkan bahwa pengalihan ini sudah berjalan dan menunjukkan hasil yang stabil.
“LPG sampai dengan sekarang insyaallah tetap aman. Karena yang kita ambil dari Timur Tengah itu sudah kita alihkan ke negara lain, seperti Amerika, Australia, dan beberapa negara lain,” ujarnya di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta.
Perubahan Komposisi Impor LPG Indonesia:
– Amerika Serikat (AS): Kini memegang porsi raksasa sebesar 70–75%.
– Timur Tengah: Menyusut signifikan ke angka 20%.
– Australia & Negara Lain: Mengisi sisa kuota untuk menjaga fleksibilitas stok.
Membidik Afrika untuk Minyak Mentah
Tak hanya gas, komoditas minyak mentah juga mengalami re-orientasi. Pemerintah mulai menjajaki kontrak jangka panjang dengan negara-negara seperti Angola dan Nigeria.
Langkah ini dinilai lebih aman secara logistik dan politik dibandingkan hanya bergantung pada satu kawasan yang kerap terjebak konflik.
Menariknya, di tengah perburuan impor gas dan minyak, Indonesia mencatatkan kemajuan pada sektor Solar.
Baca Juga:Sinyal Penyesuaian Subsidi Energi, Seskab Teddy dan Tim Ekonomi Godok Skema 'Bantalan' RakyatPrabowo 'Gedor' Danantara: Perintahkan 100 GW Energi Surya dan Ultimatum Swasembada 4 Tahun!
Bahlil memastikan bahwa kebutuhan Solar nasional saat ini 100% terpenuhi dari produksi dalam negeri, sebuah sinyal positif bagi swasembada energi di sektor transportasi.
Menjaga Stok Minimum, Menjamin Stabilitas Harga
”Sekarang ini stok energi kita masih dalam taraf stok minimum nasional. Jadi, insyaallah clear (aman),” tegas Bahlil.
Strategi kontrak jangka panjang dengan mitra baru seperti AS dan Afrika bukan sekadar urusan dagang, melainkan upaya memutus rantai risiko kenaikan harga mendadak yang biasanya dipicu oleh konflik di Selat Hormuz atau wilayah Teluk lainnya.
