CIREBONINSIDER.COM – Kawasan dataran tinggi Ciater kini memiliki ikon baru yang lebih segar dan berkarakter.
Bukan sekadar pembatas wilayah, kehadiran Gapura Mendak Waluya di perbatasan Kabupaten Subang dan Kabupaten Bandung Barat (KBB) kini bertransformasi menjadi titik henti (pit stop) favorit bagi wisatawan.
Langkah Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) ini merupakan bagian dari penataan infrastruktur terpadu yang memadukan unsur budaya, keselamatan berkendara, hingga pemberdayaan ekonomi lokal di jalur legendaris tersebut.
Baca Juga:KDM di Gedung Sate: Pemimpin Tak Boleh Tidur saat Rakyat Tak Mampu Beli Kain KafanGanti Takbir Keliling dengan Festival Dulag Istimewa di Gedung Sate, KDM: Di Desa Saja Beduk Sudah Hilang
Sentuhan Budaya Sunda di Jalur Hijau
Gapura Mendak Waluya tampil mencolok dengan desain yang memadukan arsitektur tradisional Sunda dan sentuhan modern yang minimalis.
Lokasinya yang dikelilingi udara sejuk dan pemandangan kebun teh menjadikannya titik instagramable baru.
Banyak pengendara kini memilih menepi sejenak untuk berswafoto atau sekadar melepas penat sebelum melanjutkan perjalanan melewati tanjakan serta turunan curam khas Ciater.
Inovasi Marka Merah: Estetika dan Safety Driving
Ada pemandangan unik di sepanjang jalan utama Ciater. Pemprov Jabar melakukan pembaruan infrastruktur dengan mengecat marka bahu jalan berwarna merah.
Langkah ini bukan sekadar urusan visual, melainkan strategi keselamatan yang krusial:
– Peningkat Kewaspadaan: Warna merah memberikan sinyal visual kuat agar pengemudi tetap berada di jalur, terutama di titik rawan kecelakaan.
– Visibilitas Malam Hari: Didukung pemasangan lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) baru yang kini menjangkau area-area gelap, memberikan rasa aman bagi pengguna jalan saat cuaca berkabut.
Baca Juga:Kuningan Jadi 'Paru-Paru' Rebana, Gubernur Dedi Mulyadi: Lebih Baik Banyak Pohon daripada UangSisa Kas Jabar Rp500 Ribu, Sekda Herman Suryatman Bongkar Strategi Belanja Agresif Era Dedi Mulyadi
Rest Area dan Kebangkitan Ekonomi Lokal
Penataan ini juga menyentuh aspek ekonomi riil melalui pembangunan lapak UMKM bergaya tradisional. Lapak-lapak ini ditata rapi dengan arsitektur kayu khas Sunda, menghadirkan nuansa alami yang menyatu dengan lingkungan.
Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi, menegaskan bahwa penataan ini bertujuan membangun citra Jawa Barat yang tertib dan berkarakter.
”Kita ingin setiap sudut Jawa Barat memiliki nilai estetika, nyaman dilalui, sekaligus memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar,” ujar Dedi Mulyadi dalam keterangannya baru-baru ini.
Kini, kawasan Ciater bukan lagi sekadar jalur perlintasan, melainkan destinasi publik terbuka yang ramah, tertib, dan memiliki daya saing wisata yang tinggi.(*)
