Benteng Ekonomi RI 2026: Strategi Pemerintah Hadapi Geopolitik dan Target Tumbuh 5,4%

Haryo-Limanseto
Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto bahas pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 dan stabilitas fiskal. Foto: Humas Kemenko perekonomian

CIREBONINSIDER.COM – Di tengah badai ketegangan geopolitik global dan guncangan pasar keuangan dunia, Pemerintah Indonesia menegaskan posisi ekonomi nasional tetap dalam zona tangguh.

Berbekal fundamental yang resilien, Indonesia optimistis menatap target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4% pada tahun 2026.

​Resiliensi di Tengah Volatilitas Global

​Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, menyatakan bahwa pemerintah terus memantau dinamika global secara presisi.

Baca Juga:Waspada 'Loker Maut' Pasca Lebaran, Sindikat TPPO Intai Pencaker yang Kepepet EkonomiLompatan Dana Zakat Jabar Tembus Rp1,17 Triliun, Sinyal Kuat Pulihnya Ekonomi Umat di Idulfitri 1447 H

Langkah adaptif diambil guna memastikan daya tahan ekonomi domestik tidak tergerus sentimen eksternal.

​“Kami menghormati berbagai pandangan masyarakat sebagai masukan kebijakan. Namun perlu kami tekankan, kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini berada dalam posisi kuat yang ditopang faktor-faktor utama,” tegas Haryo.

​Indikator Vital: Pertumbuhan 5,11% dan Manufaktur Agresif

​Kekuatan ekonomi Indonesia tercermin dari performa sektor riil yang melampaui negara-negara sepadan (peers):

– ​PDB 2025: Tumbuh solid di angka 5,11% (yoy).

– ​Inflasi Terkendali: Terjaga ketat dalam koridor 2,5±1%.

– ​PMI Manufaktur: Mencapai skor 53,8—level ekspansi tertinggi dalam dua tahun terakhir, menandakan aktivitas produksi nasional sedang berada di titik puncak.

​Digitalisasi Pajak & Kedaulatan Energi

​Dua pilar baru yang menjadi “senjata” pemerintah dalam menjaga fiskal adalah reformasi digital dan kemandirian komoditas:

– ​Lompatan Pajak (Coretax): Hingga Februari 2026, penerimaan pajak tumbuh signifikan 30,4% (yoy) berkat implementasi sistem Coretax yang memperkuat basis kepatuhan wajib pajak.

– ​Bantalan Pangan & Biodiesel: Surplus produksi energi melalui program biodiesel serta swasembada pangan utama menjadi perisai efektif terhadap fluktuasi harga komoditas dunia.

Baca Juga:Sinyal Penyesuaian Subsidi Energi, Seskab Teddy dan Tim Ekonomi Godok Skema 'Bantalan' RakyatLawan Dominasi Ritel Besar, Pemerintah Dorong Kopdes Merah Putih Jadi Antitesis Ekonomi Desa

​Visi Jangka Panjang: Hilirisasi dan Ekonomi Hijau

​Pemerintah tidak sekadar bermain aman. Transformasi struktural terus dipacu melalui hilirisasi industri dan akselerasi investasi pada sektor kendaraan listrik (EV) serta Energi Baru Terbarukan (EBT).

Strategi ini diproyeksikan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan.

​“Kebijakan yang kami ambil akan selalu adaptif terhadap perkembangan global, sehingga ekonomi nasional tetap tumbuh positif dan berkelanjutan,” pungkas Haryo Limanseto.(*)

0 Komentar