CIREBONINSIDER.COM – Fenomena mengkhawatirkan mulai membayangi ratusan ribu diaspora Indonesia di Jepang.
Generasi kedua dan ketiga dilaporkan mulai mengalami “krisis bahasa ibu,” di mana Bahasa Jepang menggeser Bahasa Indonesia bahkan dalam interaksi internal keluarga.
Merespons urgensi ini, Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Tokyo, Amzul Rifin, menegaskan bahwa perguruan tinggi di Indonesia—termasuk Perguruan Tinggi Keagamaan (PTKI)—harus segera melakukan reorientasi program pengabdian masyarakat.
Baca Juga:Tembus Pasar Jepang dan Singapura, Mentan Amran Lepas Ekspor 545 Ton Unggas: Bukti RI Swasembada!KDM Kritik Standar Perumahan RI, Negara Pancasila tapi Urusan Rumah Lebih Liberal dari Jepang
”Di Jepang, proyek pengabdian masyarakat yang paling krusial saat ini adalah tentang Bahasa Indonesia dan Pancasila,” tegas Prof. Amzul saat menerima delegasi akademisi dari UMSURA, UNIDA Gontor, PTIQ Jakarta, dan Dompet Dhuafa Japan di Kantor KBRI Tokyo, Senin (2/3/2026).
Data dan Fakta: 230 Ribu Jiwa dan Ancaman Akar Nasionalisme
Populasi diaspora Indonesia di Negeri Sakura kini menyentuh angka 230.000 jiwa, dengan komposisi lebih dari 80 persen beragama Islam.
Namun, besarnya populasi ini tidak berbanding lurus dengan ketahanan identitas budaya pada generasi muda.
Dr. Mohammad Ikhwanuddin dari UMSURA mengungkapkan temuan lapangan di Chiba dan Tokyo yang menunjukkan anak-anak Indonesia yang bersekolah di sekolah lokal secara otomatis menjadikan Bahasa Jepang sebagai bahasa pergaulan utama. Fenomena ini memicu kekhawatiran akan terkikisnya nasionalisme sejak dini jika tidak ada pendampingan intensif.
Bukan Sekadar Formalitas: 3 Fokus Utama Pengabdian
Prof. Amzul mengkritisi banyaknya tawaran kerja sama (MoU) dari kampus-kampus di tanah air yang sering kali hanya berakhir sebagai dokumen administratif tanpa kebermanfaatan berkelanjutan (sustainable benefit).
Ia mendorong para akademisi untuk terjun langsung pada tiga pilar kebutuhan mendesak:
– Revitalisasi Bahasa Indonesia: Mencegah anak-anak diaspora kehilangan kemampuan berkomunikasi dengan bahasa asli mereka.
Baca Juga:Jabar Bidik Pasar Jepang: Revolusi 'Care Economy' dan Ambisi Jadi Hub Pengasuh GlobalMenaker Yassierli ‘Sikat’ Biaya Tinggi Magang Jepang, Ancam Cabut Izin SO Nakal
– Internalisasi Pancasila: Menanamkan ideologi bangsa agar karakter “Indonesia” tetap melekat meski jauh dari tanah air.
– Pendidikan Islam Dasar & Tahsin: Memenuhi kebutuhan akses belajar tauhid dan bacaan Al-Qur’an yang tartil bagi komunitas Muslim di perantauan.
Peluang Kolaborasi Strategis
KBRI Tokyo kini membuka pintu lebar bagi kemitraan yang spesifik dan solutif.
Tujuannya jelas: memastikan generasi masa depan Indonesia di Jepang tidak hanya sukses secara akademis di sekolah lokal, tetapi juga memiliki fondasi religius dan karakter nasionalis yang tidak luntur oleh arus budaya lokal.
