CIREBONINSIDER.COM – Di tengah eskalasi geopolitik yang kian membara antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, fondasi ekonomi Indonesia menunjukkan resiliensi yang signifikan.
Pemerintah menegaskan bahwa Indonesia tidak hanya sekadar bertahan, namun memiliki “tameng” berlapis melalui permintaan domestik yang solid dan sinkronisasi kebijakan yang presisi.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa meskipun transmisi krisis global mulai menyentuh harga energi dan komoditas, indikator makro nasional tetap berada di zona aman.
Baca Juga:Kuningan 'Meledak' di Kawasan Rebana: Pertumbuhan Ekonomi Tertinggi, Bupati Dian Amankan Fondasi Data 2026Riset Independen BRIN: Program Makan Bergizi Gratis Jadi 'Breakthrough' Ekonomi atau Beban Anggaran?
“Walau situasi perang sudah berjalan lebih dari dua minggu, transmisi ke Indonesia terutama terasa pada harga minyak dan gas. Namun, secara makro kita tetap kuat dan solid,” tegas Menko Airlangga dalam Forum Komunikasi Wartawan Ekonomi Makro (Forkem) di Jakarta, Senin (16/03).
’Natural Hedging’: Senjata Rahasia Ekspor Indonesia
Salah satu poin krusial yang menjadi keunggulan Indonesia kali ini adalah fenomena natural hedging.
Lonjakan harga komoditas ekspor seperti batu bara, nikel, tembaga, hingga aluminium justru menjadi pelindung alami bagi neraca perdagangan nasional.
Data Bicara:
– Nilai Ekspor: Menembus USD 47 miliar (per Februari 2026), efektif menutup defisit migas sebesar USD 19,5 miliar.
– PMI Manufaktur: Stabil di angka 53,8, menunjukkan sektor industri masih sangat ekspansif.
– Cadangan Devisa: Mencapai USD 151,9 Miliar, setara dengan pembiayaan 6 bulan impor—jauh melampaui standar aman internasional.
Mandat Presiden Prabowo: APBN Sebagai ‘Shock Absorber’
Menanggapi dinamika global, Presiden RI Prabowo Subianto telah menginstruksikan langkah-langkah strategis agar rakyat tidak langsung terhantam guncangan ekonomi dunia.
Baca Juga:Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,11%: Menko Airlangga Ungkap Resep 'Resiliensi' di Forum ABAC 2026Strategi Soemitronomics Menkeu Purbaya: Injeksi Stimulus Besar-besaran, Targetkan Ekonomi Tembus 6%
APBN 2026 kini difungsikan sepenuhnya sebagai peredam kejut (shock absorber). Kebijakan konkret yang diambil meliputi:
1. Bantuan Pangan: Penggelontoran dana sebesar Rp11,92 triliun.
2. Energi: Percepatan ketersediaan energi dan efisiensi konsumsi BBM.
3. Fleksibilitas Kerja: Perluasan kebijakan Work From Home (WFH) untuk menekan konsumsi energi nasional.
LCS: Langkah Berani ‘Buang’ Ketergantungan Dollar
Untuk menjaga stabilitas Rupiah, Pemerintah mempercepat agenda dedolarisasi melalui Local Currency Settlement (LCS).
Hasilnya fantastis: transaksi mata uang lokal dengan mitra seperti Jepang, Tiongkok, dan Thailand melonjak hingga USD 25,66 miliar pada 2025—hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya.
