Sindir Riset "Laci", Mentan Amran Gandeng BRIN & 18 Kampus: Paksa Inovasi Turun ke Sawah!

Mentan-Andi-Amran-Sulaiman
Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Mendiktisaintek Brian Yuliarto, dan Kepala BRIN Arif Satria saat penandatanganan sinergi riset swasembada pangan 2026 di Jakarta. Foto: Humas Kementan RI

CIREBONINSIDER.COM — Pemerintah Indonesia resmi menabuh genderang perang terhadap tradisi “riset di atas kertas”.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman secara tegas meminta agar hasil penelitian di perguruan tinggi dan lembaga riset tidak lagi hanya menjadi pajangan di rak perpustakaan, melainkan harus segera diimplementasikan di sawah dan industri.

​Langkah konkret ini ditandai dengan penandatanganan kesepakatan sinergi riset dan inovasi antara Kementerian Pertanian, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Jakarta, Kamis (12/3/2026).

Baca Juga:Unpad Resmikan Praise: Pusat Riset Ubi Jalar Kelas Dunia, Targetkan Swasembada Pangan Nasional​RI Swasembada 9 Komoditas di Tengah Gejolak Global, Bapanas Aktifkan Satgas Sapu Bersih

​99 Persen Riset Gagal Menembus Pasar

​Kritik tajam muncul dalam pertemuan strategis tersebut. Menteri Diktisaintek, Brian Yuliarto, memaparkan data yang cukup memprihatinkan mengenai dunia akademik Indonesia.

​“Lebih dari 90 persen, bahkan hampir 99 persen hasil penelitian di dunia akademik tidak berhasil masuk ke pasar komersial,” ungkap Brian.

​Menurutnya, tanpa kolaborasi antara pemerintah dan industri, inovasi secanggih apa pun akan kehilangan relevansinya.

Oleh karena itu, pihaknya kini mulai mengonsolidasikan 18 perguruan tinggi di Indonesia untuk fokus pada riset komoditas strategis yang mendukung kemandirian pangan.

​Mentan Amran: Pertanian Modern Butuh “Sains Lapangan”

​Senada dengan hal tersebut, Mentan Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa swasembada pangan berkelanjutan adalah mustahil tanpa dukungan teknologi.

Ia ingin agar setiap kebijakan yang keluar dari Kementan didasari oleh data dan riset yang valid.

​“Pertanian pangan tidak mungkin maju tanpa inovasi. Banyak penelitian di perguruan tinggi yang sangat baik, tetapi kalau tidak ditarik menjadi kebijakan, maka hanya berhenti di atas kertas,” tegas Amran.

Baca Juga:Tembus Pasar Jepang dan Singapura, Mentan Amran Lepas Ekspor 545 Ton Unggas: Bukti RI Swasembada!Riset Independen BRIN: Program Makan Bergizi Gratis Jadi 'Breakthrough' Ekonomi atau Beban Anggaran?

​Ia menekankan bahwa kolaborasi ini adalah jembatan untuk mengubah gagasan ilmiah menjadi regulasi dan program nyata yang bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh para petani di seluruh pelosok negeri.

​Hilirisasi: Dari Padi hingga Alat Mesin Pertanian

​Sementara itu, Kepala BRIN Arif Satria menyatakan kesiapannya untuk melakukan “jemput bola”. BRIN saat ini telah mengantongi sedikitnya 188 paten di bidang pangan yang siap untuk dihilirisasi ke sektor industri dan pemerintahan.

​“Kami ingin BRIN goes to industry. Riset harus membawa impact. BRIN siap mendukung percepatan hilirisasi agar hasilnya dirasakan langsung oleh masyarakat dan industri,” jelas Arif.

0 Komentar