CIREBONINSIDER.COM – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa melontarkan peringatan keras yang tidak biasa kepada seluruh jajaran pimpinan Kementerian Keuangan.
Di tengah sorotan tajam masyarakat terhadap transparansi pengelolaan uang negara, Purbaya menegaskan bahwa instrumen fiskal seperti pajak dan bea cukai akan lumpuh total jika kepercayaan publik runtuh.
​Dalam diskusi penguatan budaya integritas di Aula Mezanine Kemenkeu, Jumat (6/3/2026), Purbaya mengingatkan bawahannya bahwa integritas bukan sekadar pajangan dinding atau formalitas administratif.
Baca Juga:Kawal Triliunan Rupiah, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Pasang Badan Amankan Opini WTP 2025Menkeu Purbaya "Sentil" Kebijakan Impor: Orang Kita Jago Bikin Kapal tapi Tak Diberi Kesempatan
​”Kita mengelola uang rakyat. Ujungnya cuma satu yang menentukan semua itu jalan atau tidak, yaitu kepercayaan publik,” tegas Purbaya.
​Ia menyiratkan bahwa tanpa kepercayaan, instrumen kebijakan fiskal secanggih apa pun tidak akan efektif di lapangan.
​Bukan Sekadar Angka, Tapi Nasib Negara
​Purbaya menarik garis lurus antara perilaku birokrasi dan eksistensi negara.
Menurutnya, kegagalan aparatur dalam menjaga marwah institusi bukan sebatas masalah kebocoran anggaran, melainkan ancaman nyata bagi tatanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
​”Saya pikir ke depan Indonesia amat bergantung kepada kinerja Anda semua. Kalau kita gagal, NKRI-nya akan rusak,” ujarnya tanpa tedeng aling-aling.
​Pernyataan ini menjadi “alarm” bagi birokrasi Kemenkeu bahwa kinerja mereka adalah taruhan bagi kemakmuran anak cucu di masa depan.
​Internal vs Ekspektasi Publik yang “Lari Kencang”
​Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara turut menyentuh sisi personal dengan membawa dimensi keluarga ke dalam ruang birokrasi.
Baca Juga:Strategi Soemitronomics Menkeu Purbaya: Injeksi Stimulus Besar-besaran, Targetkan Ekonomi Tembus 6%Nasib Apoteker UMKM Tercekik Izin Bangunan, Menkeu Purbaya Turun Tangan "Potong" Aturan Ribet
Ia menekankan bahwa benteng integritas terakhir bukan pada sistem digital, melainkan pada moralitas individu dan keluarga sebagai instrumen pengawas alami.
​Namun, sebuah pengakuan jujur datang dari Wamenkeu Juda Agung. Ia mengakui adanya kesenjangan (gap) antara progres internal kementerian dengan harapan masyarakat yang terus meningkat.
​”Ekspektasi masyarakat itu lebih dari (kemajuan) itu. Jadi apa yang sudah baik harus dipertahankan,” ungkap Juda, mengakui bahwa perbaikan internal harus dipacu lebih kencang agar tidak tertinggal oleh tuntutan publik. (*)
