Jabar Cetak Surplus Jumbo USD 2,12 Miliar: Ekspor Manufaktur Melejit, Impor Tiongkok Melandai

Kepala-BPS-Jabar-Margaretha-Ari-Anggorowati
Kepala BPS Jabar Margaretha Ari Anggorowati saat memberikan keterangan pers mengenai surplus neraca perdagangan Jawa Barat tahun 2026. Foto: Humas Pemprov Jabar

CIREBONINSIDER.COM – Provinsi Jawa Barat (Jabar) mengawali tahun 2026 dengan performa perdagangan internasional yang impresif.

Berdasarkan rilis terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), Bumi Parahyangan sukses membukukan surplus neraca perdagangan sebesar USD 2,12 miliar pada Januari 2026.

​Angka surplus yang fantastis ini dipicu oleh dua faktor utama: penguatan ekspor sektor industri manufaktur dan efisiensi nilai impor yang justru mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca Juga:Terjebak Janji Palsu: Jejak Perdagangan Manusia di Balik Deportasi PMIAkselerasi Kawasan Rebana: Lucky Hakim Perkuat Posisi Indramayu ‘Raksasa’ Ekonomi Baru Jawa Barat

​Manufaktur Jadi Mesin Utama Ekspor

​Kepala BPS Provinsi Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, mengungkapkan bahwa nilai ekspor Jabar pada Januari 2026 menembus USD 3,14 miliar.

Performa ini tumbuh positif 3,75 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025 (YoY).

​Menariknya, struktur ekonomi Jabar masih sangat bergantung pada sektor industri yang menyumbang dominasi mutlak sebesar 98,77 persen dari total ekspor.

​”Kontribusi ekspor Januari 2026 masih didominasi oleh sektor industri. Tiga golongan barang penyumbang terbesar adalah kendaraan dan bagiannya, mesin elektrik, serta peralatan mekanis,” ujar Margaretha dalam konferensi pers Berita Resmi Statistik, Senin (2/3/2026).

​Peta Kekuatan Pasar: AS dan Filipina Jadi Primadona

​Amerika Serikat tetap kokoh sebagai mitra dagang paling potensial bagi Jawa Barat. Nilai ekspor ke Negeri Paman Sam tersebut mencapai USD 527,75 juta, naik sebesar USD 28,22 juta dibanding Januari 2025.

​Selain AS, Filipina menyusul di posisi kedua dengan nilai ekspor USD 261,28 juta. Hal ini menunjukkan tren ekspansi produk Jabar ke pasar ASEAN yang kian agresif dan kompetitif.

​Tren Impor Menurun: Sinyal Kemandirian Industri?

​Berbeda dengan ekspor yang menanjak, nilai impor Jawa Barat pada Januari 2026 justru terkoreksi ke angka USD 1,02 miliar. Angka ini turun 5,51 persen (YoY) dan merosot 5,76 persen dibanding Desember 2025.

Baca Juga:Siswa Jabar Dilarang Bawa Motor Mulai 2026: Wajib Teken Materai, Disdik Siapkan Angkutan AbonemenBPS Ungkap Sektor Penyumbang Inflasi  Paling Tinggi di Cirebon pada Juni 2025

​Meski demikian, Tiongkok tetap menjadi negara asal impor terbesar dengan nilai USD 393,16 juta, disusul Korea Selatan (USD 107,67 juta) dan Jepang (USD 100,22 juta).

Penurunan nilai impor ini memberikan sinyal adanya efisiensi atau mulai kuatnya penggunaan bahan baku lokal di dalam negeri.

​Rincian Surplus Perdagangan Jabar per Negara (Januari 2026)

​Keberhasilan Jabar mencatatkan surplus tidak lepas dari dominasi perdagangan dengan beberapa negara mitra kunci berikut ini:

0 Komentar