CIREBONINSIDER.COM – Di tengah hiruk-pikuk agenda formal pemerintahan, Kelurahan Karyamulya tampil beda. Bukan sekadar bagi-bagi bantuan, wilayah ini membuktikan bahwa kekuatan swadaya masyarakat adalah “bahan bakar” utama pembangunan kota yang humanis.
Kehadiran Wakil Wali Kota Cirebon, Siti Farida Rosmawati, pada Senin (2/3/2026) sore dalam agenda “Gebyar Ramadan Berbagi Kasih”, menjadi simbol dukungan moral yang kuat bagi inisiatif lokal yang digagas oleh Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Karyamulya.
Apresiasi untuk Garda Terdepan Lingkungan
Bagi Siti Farida, momen ini bukan sekadar kunjungan kerja (kunker) protokoler. Ia tampak larut dalam perbincangan hangat dengan warga dan pengurus wilayah, membedah bagaimana sebuah kelurahan mampu menggerakkan potensi mandiri tanpa harus selalu bergantung pada APBD.
Baca Juga:Ancaman Silent Killer di Balik Bau Mulut saat Puasa: Mengapa Kesehatan Gigi Ramadan 2026 Tak Boleh Diabaikan?Jemput Aspirasi di Desa Winong, Wabup Cirebon Tekankan Sinergi Pemda-Pemdes di Momen Ramadan
Tahun ini, santunan menyasar 50 penerima manfaat yang merupakan sosok-sosok vital di balik layar: marbot masjid, imam, petugas kebersihan, hingga kader Posyandu.
”Alhamdulillah, saya sangat mengapresiasi kolaborasi di Karyamulya. Kegiatan ini menyasar mereka yang setiap hari melayani masyarakat. Semuanya berjalan tulus, dan kami sangat senang bisa bersilaturahmi langsung dalam suasana hangat seperti ini,” ujar Siti Farida.
Empat Tahun Konsistensi: Menepis Stigma ‘Proyek Musiman’
Satu hal yang mencuri perhatian Wakil Wali Kota adalah napas panjang program ini yang telah memasuki tahun keempat. Baginya, ini adalah modal sosial luar biasa yang harus “menular” ke kelurahan lain di Kota Cirebon.
”Harapannya tentu berkelanjutan. Selain Ramadan, momen peduli kasih ini bisa dilanjutkan di bulan-bulan lainnya. Sinergi di Karyamulya ini adalah bukti bahwa kebaikan itu menular,” tambahnya.
Lurah Karyamulya: “Ini Tanggung Jawab Moral, Bukan Seremonial”
Senada dengan hal tersebut, Lurah Karyamulya, Rahmat Sulaeman, menegaskan bahwa kehadiran pimpinan kota adalah energi tambahan bagi jajarannya.
Rahmat secara kritis menekankan bahwa Ramadan harus menjadi momentum pembuktian tanggung jawab sosial, bukan sekadar seremoni yang kehilangan esensi.
”Bulan Ramadan diajarkan untuk memberi secara tulus. Ini wujud nyata kasih sayang kami kepada warga, bukan sekadar seremonial. Apa yang kami berikan adalah bentuk tali kasih dan tanggung jawab jabatan,” tegas Rahmat.
