Misi Safari Ramadan Santri Lirboyo di Kapetakan, Gus Hakim: Niatkan Ikhlas Dakwah ke Semua Lapisan Masyarakat

Safari-Ramadan-Lirboyo-di-Kapetakan
Gus HM Syarief Hakim An\'im (kedua dari kanan) memberikan arahan dalam Monev Safari Ramadhan LIM Lirboyo di Musholla Roudlatul Athfal Desa Dukuh, Kapetakan, Cirebon. Foto: LTN MWC NU Kapetakan

CIREBONINSIDER.COM – Safari Ramadan 1447 H yang diinisiasi Lembaga Ittihadul Muballighin (LIM) Pondok Pesantren Lirboyo di wilayah Kapetakan, Cirebon, kini memasuki babak krusial.

Agenda Monitoring dan Evaluasi (Monev) yang digelar pada Minggu malam (28/02/2026) di Musholla Roudlatul Athfal Desa Dukuh, menjadi momentum refleksi mendalam bagi puluhan santri yang tengah mengabdi.

​Kehadiran Gus HM Syarief Hakim An’im, dzurriyah Masyayikh Ponpes Lirboyo, bersama perwakilan LIM Jawa Barat, Ustad Nuqman Abdul Ghoni, menegaskan urgensi peningkatan kualitas dakwah santri di tengah tantangan zaman yang kian kompleks.

Baca Juga:Bupati Imron: Visi Indonesia Emas 2045 Prabowo Mustahil Tercapai tanpa Peran Aktif Santri dan UlamaKH Aziz Hakim: Santri Wajib Jaga Akhlak dan Mandiri, Pesantren Fondasi Karakter Bangsa

​Belajar dari Realitas, Dakwah karena Allah

​Dalam arahannya, Gus Hakim menekankan bahwa Safari Ramadan bukan sekadar kegiatan rutin tahunan. Melainkan “kawah candradimuka” bagi santri untuk menguji kedalaman ilmu yang selama ini dipelajari di pondok.

​”Santri harus mampu belajar dari pengalaman terjun langsung. Jika di pondok hanya berkutat dengan kitab, di sini kalian berhadapan dengan realitas sosial. Niatkan dakwah ke semua lapisan masyarakat tanpa memandang golongan. Dakwah itu murni karena Allah,” tegas Gus Hakim.

​Pesan ini menjadi “pecutan” spiritual bagi para santri agar tidak bersikap eksklusif. Mereka diharapkan mampu merangkul seluruh elemen warga di 45 titik penempatan (masjid dan musholla) yang tersebar di seantero Kecamatan Kapetakan.

​Spiritualitas Mbah Abdul Karim yang Tak Lekang Waktu

​Suasana haru menyelimuti sambutan Kiai Ahmad Sanusi selaku tuan rumah. Ia mengungkapkan bahwa kehadiran cicit dari pendiri Lirboyo merupakan pengobat rindu bagi masyarakat Cirebon terhadap sosok Mbah Abdul Karim (Muasis Ponpes Lirboyo).

​”Meskipun Mbah Abdul Karim tidak hadir secara zahir, kehadiran cicit beliau sudah membuat kami merasakan ruh perjuangan sang muasis. Ini adalah keberkahan luar biasa bagi Desa Dukuh,” tutur Kiai Sanusi yang juga Syuriah MWC NU Kapatakan dengan nada bergetar.

​Dampak Nyata: Warga Desak Program Berkelanjutan

​Respons positif mengalir deras dari akar rumput. Kang Mukari, salah satu warga Desa Dukuh, menyatakan bahwa kehadiran santri Lirboyo membawa warna baru dalam denyut kehidupan beragama di desa mereka.

​Saking besarnya manfaat yang dirasakan, warga berharap program ini tidak berhenti begitu Ramadan usai. “Manfaatnya sangat nyata. Kami berharap kegiatan LIM Lirboyo ini terus berkelanjutan, tidak hanya untuk bulan Ramadan tahun ini saja,” ungkapnya.

0 Komentar