CIREBONINSIDER.COM – Di tengah hiruk-pikuk dunia digital dan hustle culture yang kian melelahkan, sebuah dialog klasik dari abad pertengahan mendadak menjadi kompas yang sangat relevan. Kisah ini terekam abadi dalam kitab legendaris Ihya Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali.
Kisah ini bermula saat Syaqiq Al-Balkhi bertanya kepada murid setianya, Hatim Al-Asham. “Hatim, sudah 33 tahun kau belajar bersamaku. Pelajaran apa yang kau dapatkan?”
Jawaban Hatim mengejutkan: “Hanya delapan pokok masalah, Guru.”Syaqiq sempat terperangah, merasa separuh umurnya sia-sia mendidik Hatim.
Baca Juga:Bolehkah Ahli Waris Meng-Qadha Shalat untuk Orang Meninggal? Simak Hukumnya Merujuk Kitab Fathul Mu’inBongkar Dalil "Tidurnya Orang Berpuasa Ibadah", Benarkah Ramadan 2026 Waktunya Rebahan?
Namun, setelah mendengar penjelasan sang murid, ia justru menyadari bahwa Hatim telah menggenggam intisari dari empat kitab suci: Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Qur’an.
Berikut adalah 8 Protokol Kehidupan Hatim Al-Asham yang menjadi obat bagi krisis eksistensial manusia modern:
1. Memilih “Kekasih” yang Tak Berkhianat
Hatim mengamati manusia mencintai banyak hal: harta, jabatan, hingga keluarga. Namun, semua itu berhenti di bibir liang lahat.
Ia memutuskan menjadikan amal baik sebagai satu-satunya kekasih sejati, karena hanya amal yang akan menemaninya mendekam di kegelapan kubur.
2. Menjinakkan “Liar”-nya Nafsu
Merujuk pada Surat An-Nazi’at ayat 40-41, Hatim sadar bahwa surga adalah upah bagi mereka yang takut pada keagungan Tuhan dan mampu mengerem keinginan nafsu.
Ia mendidik dirinya untuk tidak menjadi budak keinginan, melainkan menjadi tuan bagi dirinya sendiri dalam ketaatan.
3. Mengubah Aset Menjadi Investasi Abadi
Banyak orang menjaga hartanya mati-matian. Namun, Hatim menggunakan logika terbalik berdasarkan Surat An-Nahl ayat 96: “Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah akan kekal.”
Baca Juga:Kepuasan Publik Tembus 79,9%, Istana Ogah Terlena: Kami Kejar Beban Rakyat, Bukan PollingInvestasi Langka Ramadan 2026: Mengapa Melewatkan Tarawih Kerugian Spiritual Terbesar?
Setiap kali memiliki sesuatu yang berharga, ia segera menyedekahkannya agar “tersimpan” aman di sisi Allah.
4. Mencari Kemuliaan Tanpa Kasta
Di era saat status social dan garis keturunan dipuja, Hatim merujuk pada Surat Al-Hujurat ayat 13.
Ia meyakini kemuliaan sejati bukan pada “bibit, bebet, bobot”, melainkan pada ketakwaan. Baginya, menjadi mulia di mata Tuhan jauh lebih berharga daripada validasi manusia.
5. Melepas Racun Kedengkian (Hasad)
Hatim menyadari bahwa kebencian dan saling menjatuhkan lahir dari rasa iri. Ia merenungkan Surat Az-Zukhruf ayat 32, bahwa Tuhan telah membagi porsi rezeki masing-masing manusia.
