Investasi Langka Ramadan 2026: Mengapa Melewatkan Tarawih Kerugian Spiritual Terbesar?

Shalat-Tarawih
Visualisasi jamaah shalat tarawih berjamaah di masjid yang penuh dan khusyuk saat Ramadan 2026 untuk mengejar pahala malam penuh. ​Foto: NU Online

CIREBONINSIDER.COM – Gema Ramadan 1447 H atau 2026 Masehi kini menyelimuti tanah air. Di balik riuhnya persiapan fisik masjid—mulai dari sentuhan cat baru hingga tata lampu yang menenangkan—terselip satu ibadah eksklusif yang sering kali dianggap “biasa”, namun menyimpan rahasia pengampunan yang luar biasa: Shalat Tarawih.

​Sering dianalogikan sebagai “garam” dalam masakan ibadah, tarawih bukan sekadar rutinitas penghias malam. Ia adalah instrumen purifikasi atau pembersihan besar-besaran terhadap catatan amal manusia yang mungkin pernah ternoda selama setahun terakhir.

​Polaritas Ulama: Benarkah Dosa Besar Bisa Lenyap?

​Landasan utama ibadah ini berpijak pada janji Rasulullah SAW yang sangat fundamental:

Baca Juga:Bongkar Dalil "Tidurnya Orang Berpuasa Ibadah", Benarkah Ramadan 2026 Waktunya Rebahan?Menakar Kelulusan Spiritual: 5 Indikator Pelajar Sukses Pasca Ramadan 2026 Merujuk Kitab Kuning

​”Barangsiapa ibadah (tarawih) di bulan Ramadhan seraya beriman dan ikhlas, maka diampuni baginya dosa yang telah lampau.” (HR al-Bukhari & Muslim)

​Menariknya, para pakar hukum Islam (fuqaha) membedah dimensi pengampunan ini secara tajam:

– ​Imam Haramain: Memandang secara konservatif bahwa yang terhapus melalui tarawih adalah dosa-dosa kecil. Adapun dosa besar tetap memerlukan pintu khusus bernama taubat nasuha.

– ​Imam Ibnul Mundzir: Memiliki perspektif yang lebih luas. Berdasarkan analisis gramatika Arab (ilmu Nahwu) terhadap kata “Ma” yang bermakna umum (umumiyah), beliau meyakini bahwa seluruh dosa, baik besar maupun kecil, berpotensi dilebur melalui ketulusan shalat tarawih.

​Melawan Fenomena “Shaf yang Maju”

​Tantangan terbesar umat Islam setiap tahunnya adalah grafik kehadiran yang melandai saat memasuki pertengahan hingga akhir bulan.

Fenomena “shaf yang maju” (berkurangnya jamaah) ini biasanya dipicu oleh distraksi duniawi menjelang Idul Fitri—mulai dari persiapan mudik, dekorasi rumah, hingga kesibukan dapur.

​Padahal, secara esensi algoritma pahala, fase akhir Ramadan justru merupakan “masa panen”. Berikut adalah tiga keuntungan strategis bagi mereka yang mampu menjaga konsistensi (istiqamah) hingga malam terakhir:

Baca Juga:Bukan Sekadar Penggugur Kewajiban, Inilah 7 Level Shalat Menurut Imam Al-Ghazali, Kita di Tingkat Mana?Rahasia 'Inner Beauty' dan Detoksifikasi Ruhani: Bedah Filosofi Wudhu Menurut Syekh Al-Jurjawi

1. ​Garansi Purifikasi Total: Memastikan diri masuk dalam barisan hamba yang mendapatkan ampunan dosa masa lalu.

2. ​Efisiensi Ibadah Semalam Suntuk: Mengacu pada HR Abu Dawud, siapa pun yang shalat tarawih berjamaah bersama imam hingga tuntas (termasuk witir), ia dicatat telah beribadah sepanjang malam penuh secara nonstop.

0 Komentar