CIREBONINSIDER.COM​– Banyak umat Islam terjebak dalam ritual “begadang” di masjid pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, namun melupakan kesiapan mesin ruhaninya sendiri.
Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Bahaudin Nursalim atau Gus Baha, mengingatkan bahwa Lailatul Qadar bukanlah hadiah undian yang datang tiba-tiba, melainkan hasil dari maintenance spiritual yang konsisten.
​Dalam diskusi mendalam bersama Prof. Quraish Shihab, ulama asal Rembang ini membongkar lima strategi fundamental agar pencarian malam seribu bulan Anda di Ramadhan 2026 tidak berakhir sia-sia atau “zonk”.
Baca Juga:Investasi Langka Ramadan 2026: Mengapa Melewatkan Tarawih Kerugian Spiritual Terbesar?Bongkar Dalil "Tidurnya Orang Berpuasa Ibadah", Benarkah Ramadan 2026 Waktunya Rebahan?
​1. Hentikan Mentalitas ‘Sistem Kebut Semalam’
​Persiapan Lailatul Qadar seringkali salah kaprah karena baru dimulai saat memasuki tanggal ganjil di akhir bulan.
Gus Baha menekankan bahwa frekuensi spiritual harus dibangun sejak hari pertama Ramadhan, bahkan idealnya sejak bulan Rajab.
​”Bagi seseorang yang meyakini malam Lailatul Qadar datang di atas tanggal 20, jangan menafikan persiapan sejak 1 Ramadhan,” tegas Gus Baha.
​2. ‘Maintenance’ Lisan: Stop Kebocoran Pahala
​Inilah titik kritis yang sering diabaikan: Ghibah atau menggunjing. Gus Baha mengibaratkan orang yang berburu Lailatul Qadar tapi tetap bergunjing seperti orang yang mengisi bejana bocor.
Secara spiritual, Anda sedang melakukan “transfer pahala” gratis kepada orang yang Anda bicarakan. Tanpa menjaga lisan, esensi puasa akan menguap tanpa sisa.
​3. Sterilisasi Asupan dari Unsur Haram
​Ibadah yang megah bisa runtuh seketika jika ditopang oleh konsumsi harta haram atau praktik riba.Menurut Gus Baha, memakan harta yang tidak berkah sama saja dengan merusak fondasi doa.
Sterilisasi apa yang masuk ke dalam tubuh menjadi kunci agar batin cukup “bersih” untuk menangkap pancaran Lailatul Qadar.
Baca Juga:Bukan Sekadar Penggugur Kewajiban, Inilah 7 Level Shalat Menurut Imam Al-Ghazali, Kita di Tingkat Mana?Rahasia 'Inner Beauty' dan Detoksifikasi Ruhani: Bedah Filosofi Wudhu Menurut Syekh Al-Jurjawi
​4. Revolusi Mental Husnudzan (Berprasangka Baik)
​Maintenance berikutnya adalah menjaga kebersihan hati melalui Husnudzan. Gus Baha mengajak kita untuk berhenti memandang rendah orang lain.
“Kita baik, tapi juga bisa buruk. Nah, yang sekarang buruk bisa jadi suatu saat jadi baik,” jelas pengasuh Ponpes LP3IA Rembang ini.
Sikap ini menghindarkan kita dari penyakit sombong yang sering menghalangi datangnya rahmat Allah.
