​Ramadan 2026: Momentum Profesionalisme
​Menjadikan status “tidur adalah ibadah” sebagai alasan untuk bermalas-malasan di kantor atau tempat kerja adalah sebuah kekeliruan logika.
Mengapa? Karena dalam Islam, bekerja mencari nafkah adalah ibadah wajib (fardhu), sedangkan tidur—meski dalam keadaan puasa—hanyalah aktivitas mubah yang “bernilai” ibadah karena status puasanya.
​Logika Perbandingan Aktivitas:​Tidur saat puasa: Dinilai ibadah karena pelakunya sedang tidak bermaksiat dan tetap dalam keadaan menahan lapar.
Baca Juga:Sering Pejam Mata saat Shalat agar Khusyuk? Simak Hukum Fikihnya: Bisa Makruh hingga WajibPemabuk Jadi Ulama: Kisah Al-Qa’nabi, Preman yang 'Menodong' Hadits dengan Pedang
​Bekerja saat puasa: Dinilai ibadah ganda. Pertama, karena status puasanya. Kedua, karena jihad mencari nafkah yang halal dan memberikan manfaat bagi orang banyak.
​Bagi kalangan profesional, kelas pekerja, hingga pekerja sektor informal, Ramadan 2026 seharusnya menjadi panggung pembuktian. Bahwa pengendalian diri dalam puasa justru memicu fokus yang lebih tajam dan integritas yang lebih kuat.
​Kesimpulan: Pilih Pahala Minimal atau Maksimal?
​Tidur di siang hari Ramadan memang tidak dilarang, namun menjadikannya sebagai agenda utama adalah kerugian besar. Kita harus memahami bahwa puasa tidak pernah menyarankan pengurangan produktivitas.
​Jika tidur saja dihargai sebagai ibadah oleh Allah SWT, maka bayangkan betapa besarnya nilai keringat Anda yang menetes saat tetap produktif melayani sesama di tengah rasa haus.
Jangan biarkan Ramadan berlalu hanya dengan rebahan, jadikan ia nyata melalui aksi. Wallahu a’lam.(*)
