Pesan tentang rasa malu menembus benteng kesombongannya. Seketika, pedang di tangannya luruh ke tanah. Hatinya bergetar hebat.
Tanpa sepatah kata, ia pulang, membuang seluruh simpanan khamarnya, dan membulatkan tekad untuk berhijrah.
Ia meninggalkan Bashrah menuju Madinah untuk berguru langsung pada Imam Malik bin Anas.
Baca Juga:7 Rahasia Cinta Pertama Rasulullah pada Khadijah yang Menggetarkan Langit5 Golongan Manusia yang Jasadnya Utuh di Liang Lahat, Keajaiban Iman Lampaui Hukum Biologi
Ketekunannya membuahkan hasil luar biasa. Al-Qa’nabi bertransformasi menjadi salah satu murid paling khusyuk.
Bahkan, Imam Abi Hatim menyebutnya sebagai perawi kitab Al-Muwatta’ yang paling otentik dan suci riwayatnya.
Hikmah untuk Ramadan 2026
Kisah Al-Qa’nabi, yang diabadikan oleh Ibnu Qudamah dalam kitab At-Tawwabin, memberi pesan kuat bagi kita di bulan suci ini: Masa lalu yang kelam bukanlah penghalang untuk meraih derajat mulia.
Tuhan tidak melihat seberapa jauh kita jatuh, tapi seberapa jujur kita ingin kembali. Hanya butuh satu momen “rasa malu” di hadapan Sang Khalik untuk meruntuhkan gunung kemaksiatan yang telah bertahun-tahun dibangun. Waallahu A’lam. (*)
