Pemabuk Jadi Ulama: Kisah Al-Qa’nabi, Preman yang 'Menodong' Hadits dengan Pedang

Ilustrasi-Kisah-Al-Qa\'nabi
Ilustrasi pria bersahaja bertemu pemuda berbaju merah mengacungkan pedang. Foto: pixabay

CIREBONINSIDER.COM – Ramadhan selalu menjadi panggung bagi kisah-kisah perubahan besar. Namun, jarang ada transformasi se-ekstrem Abdullah bin Maslamah, atau yang lebih dikenal sebagai Imam Al-Qa’nabi.

Sebelum namanya abadi sebagai perawi paling terpercaya (tsiqah) dalam kitab Al-Muwatta’, ia adalah sosok yang ditakuti di jalanan Bashrah karena gaya hidupnya yang kelam.

​Kehidupan Kelam di Sudut Kota Bashrah

​Di masa keemasan Islam, saat Bashrah menjadi pusat ilmu, Al-Qa’nabi justru memilih jalur berbeda. Ia dikenal sebagai pemuda hedonis yang gemar berpesta, menenggak khamar, dan menghabiskan waktu dalam hura-hura.

Baca Juga:7 Rahasia Cinta Pertama Rasulullah pada Khadijah yang Menggetarkan Langit5 Golongan Manusia yang Jasadnya Utuh di Liang Lahat, Keajaiban Iman Lampaui Hukum Biologi

​Suatu sore, dengan pakaian merah mencolok dan sisa pengaruh alkohol, Al-Qa’nabi duduk pongah di depan rumahnya.

Saat itulah, ia melihat kerumunan orang berlarian mengikuti seorang pria yang menunggangi keledai.

​”Siapa pria yang kalian agungkan itu?” tanya Al-Qa’nabi dengan nada meremehkan.

“Beliau adalah Imam Syu’bah, sang ahli hadits,” jawab salah seorang warga.

​Todongan Pedang dan ‘Tamparan’ Satu Hadits

​Jiwa arogan Al-Qa’nabi terusik. Ia bangkit, meletakkan botol mirasnya, lalu mencegat sang Imam di tengah jalan. Tanpa basa-basi, ia menuntut sesuatu yang tak lazim bagi seorang pemabuk: Hadits.

​Imam Syu’bah menatap tajam pemuda di depannya dan berucap lirih, “Engkau bukan termasuk ahli hadits.”

​Merasa harga dirinya diinjak, Al-Qa’nabi gelap mata. Ia menghunus pedang dari balik punggungnya dan mengarahkannya tepat ke leher sang Imam. Suasana seketika mencekam.

​”Sampaikan hadits kepadaku, atau pedang ini akan melukaimu!” bentaknya.

Baca Juga:Begadang Menunggu Sahur, Bolehkah Tahajud tanpa Tidur? Ini Hukum Fiqh dan Alternatif IbadahnyaSering Pejam Mata saat Shalat agar Khusyuk? Simak Hukum Fikihnya: Bisa Makruh hingga Wajib

​Melihat kesungguhan dalam kegelapan hati pemuda itu, Imam Syu’bah kemudian membacakan sebuah hadits pendek yang kelak mengubah garis sejarah peradaban Islam:

​”Telah menceritakan kepada kami Manshur, dari Rib’i, dari Abu Mas’ud, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: ‘Jika engkau tidak lagi memiliki rasa malu, maka perbuatlah sesukamu.’” (HR. Bukhari)

​Rasa Malu: Pintu Pulang Menuju Madinah

​Kalimat itu bukan sekadar teks bagi Al-Qa’nabi; itu adalah “tamparan” spiritual.

0 Komentar