CIREBONINSIDER.COM – Ramadhan selalu menjadi panggung bagi kisah-kisah perubahan besar. Namun, jarang ada transformasi se-ekstrem Abdullah bin Maslamah, atau yang lebih dikenal sebagai Imam Al-Qa’nabi.
Sebelum namanya abadi sebagai perawi paling terpercaya (tsiqah) dalam kitab Al-Muwatta’, ia adalah sosok yang ditakuti di jalanan Bashrah karena gaya hidupnya yang kelam.
Kehidupan Kelam di Sudut Kota Bashrah
Di masa keemasan Islam, saat Bashrah menjadi pusat ilmu, Al-Qa’nabi justru memilih jalur berbeda. Ia dikenal sebagai pemuda hedonis yang gemar berpesta, menenggak khamar, dan menghabiskan waktu dalam hura-hura.
Baca Juga:7 Rahasia Cinta Pertama Rasulullah pada Khadijah yang Menggetarkan Langit5 Golongan Manusia yang Jasadnya Utuh di Liang Lahat, Keajaiban Iman Lampaui Hukum Biologi
Suatu sore, dengan pakaian merah mencolok dan sisa pengaruh alkohol, Al-Qa’nabi duduk pongah di depan rumahnya.
Saat itulah, ia melihat kerumunan orang berlarian mengikuti seorang pria yang menunggangi keledai.
”Siapa pria yang kalian agungkan itu?” tanya Al-Qa’nabi dengan nada meremehkan.
“Beliau adalah Imam Syu’bah, sang ahli hadits,” jawab salah seorang warga.
Todongan Pedang dan ‘Tamparan’ Satu Hadits
Jiwa arogan Al-Qa’nabi terusik. Ia bangkit, meletakkan botol mirasnya, lalu mencegat sang Imam di tengah jalan. Tanpa basa-basi, ia menuntut sesuatu yang tak lazim bagi seorang pemabuk: Hadits.
Imam Syu’bah menatap tajam pemuda di depannya dan berucap lirih, “Engkau bukan termasuk ahli hadits.”
Merasa harga dirinya diinjak, Al-Qa’nabi gelap mata. Ia menghunus pedang dari balik punggungnya dan mengarahkannya tepat ke leher sang Imam. Suasana seketika mencekam.
”Sampaikan hadits kepadaku, atau pedang ini akan melukaimu!” bentaknya.
Baca Juga:Begadang Menunggu Sahur, Bolehkah Tahajud tanpa Tidur? Ini Hukum Fiqh dan Alternatif IbadahnyaSering Pejam Mata saat Shalat agar Khusyuk? Simak Hukum Fikihnya: Bisa Makruh hingga Wajib
Melihat kesungguhan dalam kegelapan hati pemuda itu, Imam Syu’bah kemudian membacakan sebuah hadits pendek yang kelak mengubah garis sejarah peradaban Islam:
”Telah menceritakan kepada kami Manshur, dari Rib’i, dari Abu Mas’ud, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: ‘Jika engkau tidak lagi memiliki rasa malu, maka perbuatlah sesukamu.’” (HR. Bukhari)
Rasa Malu: Pintu Pulang Menuju Madinah
Kalimat itu bukan sekadar teks bagi Al-Qa’nabi; itu adalah “tamparan” spiritual.
