KH Hasyim Asy’ari menyarankan agar pelajar tetap berprasangka baik (husnuzan) dan mencari tafsir terbaik atas tindakan gurunya.
Pelajar yang “lulus” tidak akan berpaling dari ilmu hanya karena teguran keras, melainkan menganggapnya sebagai “obat” dari sang dokter spiritual.
5. Eskalasi Spiritual: Dari Sahur ke Tahajud
Keberhasilan fisik saat bangun sahur selama 30 hari harus bertransformasi menjadi kebiasaan bangun malam (Tahajud) untuk berzikir. Az-Zarnuji menegaskan melalui syairnya:
Baca Juga:Begadang Menunggu Sahur, Bolehkah Tahajud tanpa Tidur? Ini Hukum Fiqh dan Alternatif IbadahnyaSering Pejam Mata saat Shalat agar Khusyuk? Simak Hukum Fikihnya: Bisa Makruh hingga Wajib
“Siapa yang mengejar derajat luhur tanpa kerja keras (bangun malam), ia bagaikan menyia-nyiakan umur untuk mencari hal yang mustahil.”
Jika kebiasaan bangun malam ini menetap setelah Ramadhan, maka pendidikan tersebut dinyatakan berhasil.
Perubahan atau Dendam?
Keberhasilan pendidikan Allah melalui Ramadan 2026 akan terlihat pada perilaku pasca-Lebaran.
Apakah pelajar tersebut menjadi pribadi yang lebih santun dan tangguh, atau justru menjadi sosok “pendendam” yang meluapkan nafsu sejadi-jadinya setelah Ramadhan berlalu?
Sejatinya, perubahan menuju arah yang lebih baik adalah satu-satunya indikator kelulusan yang valid dalam pendidikan manusia. Wallahu a’lam bisshawab.(*)
