Menakar Kelulusan Spiritual: 5 Indikator Pelajar Sukses Pasca Ramadan 2026 Merujuk Kitab Kuning

Kitab-Kuning
Ilustrasi santri sedang mengkaji kitab kuning dengan khusyuk di bawah lampu temaram saat malam bulan Ramadhan, merepresentasikan nilai ketekunan, kesabaran, dan kedalaman spiritual dalam menuntut ilmu. Foto: pixabay

KH Hasyim Asy’ari menyarankan agar pelajar tetap berprasangka baik (husnuzan) dan mencari tafsir terbaik atas tindakan gurunya.

​Pelajar yang “lulus” tidak akan berpaling dari ilmu hanya karena teguran keras, melainkan menganggapnya sebagai “obat” dari sang dokter spiritual.

​5. Eskalasi Spiritual: Dari Sahur ke Tahajud

​Keberhasilan fisik saat bangun sahur selama 30 hari harus bertransformasi menjadi kebiasaan bangun malam (Tahajud) untuk berzikir. Az-Zarnuji menegaskan melalui syairnya:

Baca Juga:Begadang Menunggu Sahur, Bolehkah Tahajud tanpa Tidur? Ini Hukum Fiqh dan Alternatif IbadahnyaSering Pejam Mata saat Shalat agar Khusyuk? Simak Hukum Fikihnya: Bisa Makruh hingga Wajib

“Siapa yang mengejar derajat luhur tanpa kerja keras (bangun malam), ia bagaikan menyia-nyiakan umur untuk mencari hal yang mustahil.”

Jika kebiasaan bangun malam ini menetap setelah Ramadhan, maka pendidikan tersebut dinyatakan berhasil.

Perubahan atau Dendam?

​Keberhasilan pendidikan Allah melalui Ramadan 2026 akan terlihat pada perilaku pasca-Lebaran.

Apakah pelajar tersebut menjadi pribadi yang lebih santun dan tangguh, atau justru menjadi sosok “pendendam” yang meluapkan nafsu sejadi-jadinya setelah Ramadhan berlalu?

​Sejatinya, perubahan menuju arah yang lebih baik adalah satu-satunya indikator kelulusan yang valid dalam pendidikan manusia. Wallahu a’lam bisshawab.(*)

0 Komentar