Bukan Sekadar Penggugur Kewajiban, Inilah 7 Level Shalat Menurut Imam Al-Ghazali, Kita di Tingkat Mana?

Shalat-Khusyuk
Ilustrasi orang shalat khusyuk di masjid saat bulan Ramadan 2026 dengan pencahayaan hangat, merepresentasikan kedamaian batin. Foto: Pxabay

Imam Al-Ghazali menekankan pentingnya Tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa) sebelum sajadah dibentangkan melalui tiga langkah:

Pertama, ​Niat yang Murni (Ikhlas): Shalat bukan karena status sosial, tapi karena kerinduan berjumpa Allah.

Kedua, Tafakkur Singkat: Luangkan satu menit sebelum shalat untuk menyadari siapa diri kita (hamba kecil) dan kepada siapa kita akan berbicara (Penguasa Semesta).

Baca Juga:7 Rahasia Cinta Pertama Rasulullah pada Khadijah yang Menggetarkan Langit5 Golongan Manusia yang Jasadnya Utuh di Liang Lahat, Keajaiban Iman Lampaui Hukum Biologi

Ketiga, ​Tobat dari ‘Debu’ Dosa: Dosa yang belum disesali ibarat noda di cermin hati—ia menghalangi pantulan cahaya Ilahi dalam shalat.

​Tips Praktis: Menghidupkan Gerakan Menjadi Rasa

​Dalam kitab Al-Adab fid Din, Al-Ghazali memberikan panduan teknis agar shalat terasa lebih “bernyawa”:

– ​Takbir: Lakukan dengan rasa gentar dan kewibawaan (haibah).

– ​Ruku: Tunduklah dengan kerendahan hati yang nyata (khudlu’).

– ​Sujud: Rasakan kedekatan maksimal dengan tanah sebagai simbol kehinaan makhluk di hadapan Khaliq.

– ​Salam: Ucapkan dengan penuh kasih dan rasa khawatir apakah amalan diterima atau tidak.

​Shalat Sebagai Obat Jiwa Ramadan

​Ramadan 2026 harus menjadi momentum transisi. Dari shalat yang “melelahkan” menjadi shalat yang “menyembuhkan”.

Shalat yang berkualitas adalah obat bagi kegelisahan jiwa dan pembersih karat duniawi.

​Pada akhirnya, bukan tentang berapa lama kita berdiri di atas sajadah, tapi seberapa dalam hati kita hadir di sana. Mari jadikan sujud kita tahun ini sebagai jalan pulang menuju kedamaian sejati.(*)

0 Komentar