Bukan Sekadar Penggugur Kewajiban, Inilah 7 Level Shalat Menurut Imam Al-Ghazali, Kita di Tingkat Mana?

Shalat-Khusyuk
Ilustrasi orang shalat khusyuk di masjid saat bulan Ramadan 2026 dengan pencahayaan hangat, merepresentasikan kedamaian batin. Foto: Pxabay

CIREBONINSIDER.COM– Memasuki bulan suci Ramadhan 2026, masjid-masjid mulai dipenuhi jamaah. Namun, sebuah pertanyaan besar seringkali luput dari batin kita: Sudahkah shalat kita “hidup”, atau sekadar rutinitas fisik tanpa ruh?

​Bagi banyak orang, shalat sering dianggap sebagai beban kewajiban yang harus segera dituntaskan. Namun, sang Hujjatul Islam, Imam Abu Hamid Al-Ghazali, dalam mahakaryanya Ihya’ Ulumuddin, memberikan refleksi tajam.

Beliau menegaskan bahwa shalat adalah cermin kualitas hati—jika hatinya lalai, shalatnya tak lebih dari tubuh tanpa nyawa.

Baca Juga:7 Rahasia Cinta Pertama Rasulullah pada Khadijah yang Menggetarkan Langit5 Golongan Manusia yang Jasadnya Utuh di Liang Lahat, Keajaiban Iman Lampaui Hukum Biologi

​Shalat Sebagai ‘Cermin’ Kehidupan Batin

​Al-Ghazali memandang shalat bukan sebagai deretan gerakan mekanis. “Ketahuilah, hakikat shalat adalah hadirnya hati di hadapan Allah,” tulis beliau.

Menghadap Sang Pencipta dengan pikiran yang melayang ke urusan dunia ibarat menyerahkan bangkai sebagai persembahan.

​Di bulan penuh ampunan ini, memahami posisi kita dalam “tangga” kualitas ibadah menjadi sangat krusial agar shalat tak sekadar menjadi “olahraga” lima waktu.

​7 Tingkatan Shalat: Dari Kelalaian Menuju Cinta

​Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali membedah kualitas shalat manusia ke dalam tujuh tingkatan. Mari jujur pada diri sendiri, di level mana posisi kita saat ini?

– ​Level Ghafil (Si Lalai): Shalat yang hanya menggugurkan kewajiban secara administratif agama. Hati dan pikiran sama sekali tidak hadir.

– ​Sadar Lahiriyah: Gerakannya benar sesuai syariat, namun pikiran masih sering “tersesat” di urusan duniawi.

– ​Penjaga Kehadiran Hati: Mulai ada usaha keras untuk fokus. Hati mulai hadir dan memahami setiap bait bacaan.

Baca Juga:Begadang Menunggu Sahur, Bolehkah Tahajud tanpa Tidur? Ini Hukum Fiqh dan Alternatif IbadahnyaSering Pejam Mata saat Shalat agar Khusyuk? Simak Hukum Fikihnya: Bisa Makruh hingga Wajib

– ​Level Khusyuk: Hati tenang, pikiran tertuju penuh kepada Allah. Pelakunya merasa benar-benar sedang berdiri di hadapan-Nya.

– ​Mushahadah (Penyaksian): Seseorang merasakan keagungan Allah seolah-olah ia melihat-Nya secara batiniah (ihsan).

– ​Fana’ (Lepas dari Ego): Kesadaran akan diri sendiri hilang. Hanya Allah yang hadir dalam kesadarannya. Inilah puncak khusyuk para arifin.

– ​Shalat Para Nabi & Wali: Shalat bukan lagi perintah, melainkan kebutuhan ruhani. Mereka shalat karena cinta yang meluap, bukan beban kewajiban.

​Rahasia ‘Booster’ Khusyuk: Persiapan Sebelum Takbir

​Banyak dari kita gagal khusyuk karena baru mencoba fokus setelah mengucap takbiratul ihram.

0 Komentar