CIREBONINSIDER.COM – Kabupaten Cirebon mulai memetik buah manis dari komitmen menciptakan ekosistem kerja inklusi.
Melalui sinergi taktis antara Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) dan Forum Komunikasi Disabilitas Cirebon (FKDC), puluhan penyandang disabilitas kini resmi terserap di berbagai sektor industri formal. Hal ini mematahkan stigma bahwa keterbatasan adalah penghalang produktivitas.
Langkah progresif ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi lintas sektor mampu membuka pintu bagi kelompok marginal untuk berkontribusi dalam roda ekonomi daerah.
Baca Juga:Awas Bumerang Regulasi! Kemenag Rilis 4 Pedoman Pendidikan Inklusif, Status Guru Pembimbing Khusus DigugatPemkab Cirebon Gelar Pelatihan Bahasa Isyarat, Perkuat Pelayanan Publik Inklusif
Program SOLIDER: Katalisator Keadilan Kerja
Kepala Disnaker Kabupaten Cirebon, Novi Hendrianto, menegaskan bahwa penguatan Program SOLIDER pada periode 2024-2025 menjadi kunci utama lonjakan penyerapan tenaga kerja difabel.
”Kami tidak ingin inklusivitas hanya berhenti di atas kertas. Melalui SOLIDER, Disnaker bersama FKDC telah menyalurkan 32 rekan disabilitas ke perusahaan-perusahaan. Rinciannya, 26 laki-laki dan 6 perempuan kini telah aktif bekerja,” ujar Novi.
Pemerintah daerah terus memberikan tekanan positif kepada pelaku usaha agar menyediakan ruang yang setara. Sejalan dengan prinsip keadilan sosial yang diamanatkan undang-undang.
Strategi GEDSI: Solusi Kebuntuan Komunikasi Industri
Ketua FKDC, Abdul Mujib, mengungkapkan tantangan terbesar selama ini bukan pada kemampuan fisik difabel. Melainkan kekhawatiran pelaku usaha dalam berinteraksi.
Untuk menjembatani celah tersebut, FKDC secara rutin menggelar pelatihan GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion) serta kursus bahasa isyarat bagi manajemen perusahaan.
– Peningkatan Kapasitas: Perusahaan diajarkan cara berinteraksi secara profesional dan manusiawi dengan tenaga kerja difabel.
– Kesiapan Mental: Menghilangkan rasa “bingung” pelaku usaha saat harus mempekerjakan rekan tuli atau daksa.
Baca Juga:Layanan Adminduk Inklusif untuk Disabilitas di Kuningan, Bukti Kehadiran Negara bagi WargaPemkab Cirebon Dukung Temu Inklusi 2025, Puncak Acara Dipusatkan di Desa Durajaya, Kecamatan Greged
– Standarisasi Soft Skills: Difabel dibekali pendidikan nonformal (Kejar Paket) dan pelatihan etos kerja agar siap bersaing di pasar kerja yang kompetitif.
”Kami membenahi kedua sisi. Kesiapan teman-teman difabel kita asah, dan pemahaman pelaku usahanya kita bangun melalui pelatihan GEDSI,” tambah Mujib.
Kemandirian dari Akar Rumput: Kelompok Difabel Desa
Pergerakan ini tidak hanya menyasar industri besar di perkotaan, tetapi juga merambah ke pelosok desa melalui Kelompok Difabel Desa (KDD).
Saat ini, tujuh desa di Kabupaten Cirebon telah memiliki KDD aktif yang fokus pada:
