Menaker Yassierli: BLK Bukan Pabrik Sertifikat, Lulusan Harus Tembus Pasar Kerja!

Menaker-Yassierli-Arahan-Peserta-Pelatihan-Kompetensi-di-BLK-Lahat
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli memberikan arahan dalam pembukaan Pelatihan Berbasis Kompetensi di BLK Lahat, Sumatera Selatan. Foto: Kemnaker RI

​CIREBONINSIDER.COM – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menegaskan paradigma baru dalam sistem vokasi nasional.

Ia menginstruksikan agar seluruh Balai Latihan Kerja (BLK) di Indonesia berhenti sekadar menjadi “pabrik sertifikat” dan mulai bertransformasi menjadi jembatan riil menuju dunia industri.

​Pesan tajam ini disampaikan Yassierli saat membuka Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) di BLK Lahat, Sumatera Selatan, Senin (9/2/2026). Menurutnya, masyarakat tidak lagi membutuhkan proses administratif yang panjang, melainkan akses nyata terhadap lapangan kerja.

Baca Juga:Langgar Aturan TKA, PT BAP Kena Denda Rp2,17 Miliar, Teguran Keras Kemnaker di 2026Menaker Yassierli: Serikat Pekerja BUMN Harus Jadi 'Benteng' Bisnis, Bukan Sekadar Penuntut Upah

​Transformasi BLK: Target 70% Penempatan

​Yassierli mengungkapkan bahwa BLK milik Kemnaker kini telah menerapkan standar tinggi dengan tingkat penempatan lulusan mencapai 70 persen. Ia menuntut BLK di bawah pemerintah daerah untuk mereplikasi kesuksesan tersebut.

​”Fungsi BLK harus mencakup empat pilar: pusat pelatihan vokasi, pusat inovasi, pusat kewirausahaan, dan pusat pengembangan produktivitas. Jika ini berjalan, artinya kita sudah di jalur yang tepat,” ujar Yassierli.

​Ia juga menekankan pentingnya peran Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) dalam mengawal alumni pelatihan. “Ada fungsi pengantar kerja di dinas. Mereka harus membangun network dengan industri agar lulusan tidak berjalan sendiri setelah pelatihan selesai,” tambahnya.

​K3 Bukan Formalitas tapi Budaya Kerja

​Selain menyoroti kompetensi teknis, Menaker juga melakukan inspeksi ke PT Bukit Asam di Muara Enim untuk meninjau implementasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

Ia mengkritik pandangan kolot yang menganggap K3 hanya sebatas kepatuhan aturan.

​”Kecelakaan kerja sering kali bukan sekadar kesalahan individu, tapi sinyal lemahnya sistem. K3 harus menjadi way of thinking. Manusia harus dipandang sebagai pusat solusi, bukan sumber masalah,” tegasnya.

​Menaker mendorong lima strategi penguatan K3: edukasi masif, keterlibatan pekerja, adopsi teknologi keselamatan, penegakan aturan, dan evaluasi berkelanjutan tanpa budaya saling menyalahkan (no-blame culture).

Baca Juga:Hentikan Stigma Human Error, Menaker Yassierli Ungkap 70% Kecelakaan Kerja Akibat Borok SistemMenaker Yassierli: Sertifikat BLK Tak Berguna Jika Lulusan Tetap Menganggur

​Menghadapi “Kiamat Skill”: Pesan untuk Generasi Z

​Di hadapan generasi muda Lahat, Yassierli memberikan peringatan keras mengenai perubahan lanskap ekonomi global. Dengan munculnya Artificial Intelligence (AI), Care Economy, hingga Green Economy, model kompetensi tunggal dianggap sudah usang.

​Ia memperkenalkan konsep M-Shaped Skills—kemampuan spesialisasi ganda yang terintegrasi—sebagai tameng menghadapi persaingan global.

0 Komentar