Keberhasilan ini disokong oleh program progresif bertajuk “Kembali ka Karuhun”. Program ini bukan sekadar jargon, melainkan strategi teknis yang menyasar ratusan gabungan kelompok tani (Gapoktan) melalui:
– Intervensi Input: Distribusi benih bersertifikat dan subsidi pupuk tepat sasaran.
– Konektivitas: Pembangunan jalan usaha tani dan jaringan irigasi modern.
– Aliansi Kunci Bersama: Kolaborasi regional Ciayumajakuning untuk menjaga distribusi lintas daerah.
”Kami fokus pada pendekatan 4K (Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi, dan Komunikasi efektif). Hasilnya, angka kemiskinan turun ke level 10,4% dan pengangguran menyusut ke 7,5%,” urai Dian Rachmat Yanuar.
Baca Juga:Revamping Pabrik 2 Pupuk Kaltim: Gebrakan Efisiensi Rp200 Miliar demi Ambisi Lumbung Pangan DuniaJadi Benteng Pangan Nasional, Indramayu Optimalkan Tol Cisumdawu Amankan Stok Beras 2026
Digitalisasi Transaksi: Masa Depan Ekonomi Daerah
Pasamoan Agung 2026 juga menekankan pentingnya digitalisasi melalui TP2DD.
Transformasi transaksi digital dinilai mampu meningkatkan transparansi keuangan daerah dan mempercepat layanan publik, yang pada akhirnya akan memperkuat ketahanan ekonomi Jawa Barat secara keseluruhan.
Dengan kolaborasi agresif antara Pemprov, Bank Indonesia, dan pemerintah kabupaten/kota, Jawa Barat optimis dapat menavigasi dinamika ekonomi 2026 dengan stabil, memastikan masyarakat dapat menjalankan ibadah di bulan suci dengan tenang tanpa beban harga pangan.(*)
