CIREBONINSIDER.COM – Kabar gembira bagi ekosistem pendidikan Islam di tanah air. Menteri Agama Nasaruddin Umar memberikan sinyal kuat bahwa pembentukan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren sudah mendekati tahap final.
Satuan kerja setingkat Eselon I ini disebut sebagai bukti konkret komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam memuliakan dan memberdayakan pesantren secara nasional.
Pernyataan ini ditegaskan Menag saat melakukan kunjungan kerja ke Pesantren Al Itqon, Bugen, Semarang, pada Jumat (06/02/2026).
Baca Juga:Wamenag Ingatkan ‘Bom Waktu’ Nikah Siri, Status Anak dan Harta Jadi TaruhanKemenag Genjot Kesejahteraan Guru 2026: TPG Naik, Sertifikasi 423 Ribu Guru Madrasah Jadi Prioritas Utama
Kehadiran Ditjen baru ini diprediksi akan mengubah peta jalan pendidikan dan kemandirian pesantren di Indonesia secara fundamental.
Transformasi Pesantren: Bukan Sekadar Urusan Agama
Nasaruddin Umar menekankan bahwa pesantren kini tidak boleh lagi dipandang sebelah mata.
Di bawah naungan Ditjen khusus, pemerintah ingin menggeser paradigma pesantren dari sekadar lembaga pendidikan tradisional menjadi pusat kekuatan ekonomi.
”Sekarang sudah terbentuk Direktorat Jenderal Pesantren. Ini menandakan keseriusan pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan pondok pesantren sekaligus mendorong pemberdayaan ekonomi pesantren agar semakin mandiri,” tegas Menag.
Menurut Menag, ada tiga pilar utama yang akan diperkuat melalui struktur baru ini:
– Digitalisasi: Memastikan santri tidak tertinggal oleh perkembangan zaman melalui penguatan sarana digital.
– Kompetensi SDM: Penguatan metodologi pembelajaran yang adaptif bagi para guru tanpa mencabut akar keilmuan klasik.
– Kemandirian Unit Usaha: Menjadikan pesantren sebagai inkubator kewirausahaan bagi santri.
Baca Juga:Gebrakan Menag Nasaruddin Umar di Kairo: Sebut Perusak Lingkungan 'Menyimpang' dari IbadahMenag Nasaruddin Umar Bakal Sulap Masjid Jadi Sentra Ekonomi, Targetkan Dana Umat Lebih Produktif
Al Itqon Semarang: Model Perpaduan Tradisi dan Modernitas
Dalam kunjungannya, Menag juga menyerahkan bantuan senilai Rp100 juta untuk MTs Al Itqon sebagai bagian dari upaya penguatan layanan madrasah.
Pesantren Al Itqon sendiri menjadi prototipe menarik bagi Google Discovery karena keunikannya. Lembaga ini menerapkan kurikulum hibrida: 40 persen kajian Kitab Kuning dan 60 persen Kurikulum Nasional.
Metode klasik seperti bandongan dan sorogan tetap dipertahankan, namun dipadukan dengan diskusi tematik serta proyek kolaboratif yang modern.Pengasuh Pondok Pesantren Al Itqon, K.H. Kharis Shodaqoh, mengapresiasi langkah cepat Kemenag.
“Bantuan ini akan kami manfaatkan untuk memperkuat sarana pembelajaran agar santri tidak hanya kuat secara agama, tetapi juga siap menghadapi tantangan sosial di masyarakat,” ungkapnya.(*)
