Sinyal Swasembada: Produksi Padi 2026 Diprediksi Melejit, HKTI Sebut Visi Prabowo On The Track

Optimisme-Swasembada-Pangan
Optimisme swasembada pangan 2026 dan proyeksi produksi padi nasional era Presiden Prabowo Subianto. Foto: Kementan RI

​CIREBONINSIDER.COM – Indonesia tengah bersiap menyambut lonjakan produksi padi nasional di awal tahun 2026.

Meski dinamika iklim masih membayangi dengan curah hujan tinggi, Dewan Pakar DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Barat, Entang Sastraatmaja, menegaskan bahwa fondasi swasembada pangan yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto kini berada dalam posisi yang sangat tangguh.

​Entang menilai, tantangan cuaca ekstrem saat ini tidak lagi menjadi penghalang utama berkat intervensi kebijakan yang progresif dan persiapan tanam yang lebih matang.

Baca Juga:Mitigasi Banjir dan Perubahan Iklim, Kementan Racik Strategi Tanam Cerdas demi Swasembada PadiDunia Terperangah, Swasembada RI Paksa Harga Beras Global Turun Tajam 44 Persen

​Anomali Cuaca vs Teknologi Pompanisasi

​Optimisme HKTI bukan tanpa alasan. Kehadiran infrastruktur pendukung seperti sistem pompanisasi menjadi “game changer” dalam menjaga stabilitas pengairan lahan di tengah cuaca yang tak menentu.

​”Saya yakin petani tetap mampu berproduksi dengan baik meskipun terjadi hujan ekstrem. Pemerintah secara serius membangun optimisme melalui program nyata seperti distribusi benih unggul, penambahan pupuk subsidi, dan pengaturan lalu lintas air yang lebih modern,” ujar Entang dalam keterangannya, Rabu (4/2/2026).

Lonjakan Luas Panen Capai 15,32 Persen

​Mengacu pada data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat potensi kenaikan luas panen yang sangat signifikan pada periode Januari-Maret 2026.

Total luas panen diperkirakan menembus 3,28 juta hektare, atau melompat sebesar 15,32 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

​Keberhasilan ini merupakan kelanjutan dari tren positif tahun 2025, di mana produksi padi nasional tercatat mencapai 60,21 juta ton Gabah Kering Giling (GKG).

​”Lonjakan produksi ini menunjukkan bahwa perluasan luas panen serta kebijakan yang berpihak kepada petani menjadi modal kuat menghadapi musim tanam 2026,” tambah Entang.

​Pengakuan Global dari FAO dan USDA

​Ketangguhan sektor agraris Indonesia juga mendapat sorotan internasional. Lembaga pangan dunia, FAO dan USDA, memproyeksikan angka produksi beras Indonesia stabil di kisaran 34,6 juta ton.

Baca Juga:Unpad Resmikan Praise: Pusat Riset Ubi Jalar Kelas Dunia, Targetkan Swasembada Pangan NasionalAkselerasi Swasembada Pangan: Polresta Cirebon Kelola 300 Hektare Lahan Jagung

Hal ini membuktikan bahwa strategi pemerintah dalam memperkuat stok pangan nasional mulai diakui secara global.

​Namun, Entang mengingatkan agar sinergi antar pemangku kepentingan tidak boleh kendur. Pendampingan lapangan dan kemudahan akses sarana produksi tetap menjadi kunci agar petani bisa bekerja dengan tenang.

0 Komentar