Ironi Bawang Cirebon: Panen Melimpah di Tengah Cuaca Ekstrem tapi "Identitas" Masih Dicuri Brebes?

Panen-Raya-Bawang-Merah-Cirebon
Aktivitas petani saat panen raya bawang merah di Desa Ender, Cirebon, di tengah kondisi lahan basah akibat cuaca ekstrem. Foto: Kementan RI

​Lantaran rantai modal yang masih dikuasai tengkulak asal Brebes, bawang yang dipanen dari tanah Cirebon kerap dibawa dan dikemas ulang dengan label “Bawang Brebes”.

​”Rata-rata bawang di sini sudah dibeli tengkulak sejak usia 45 hari. Kami berharap Cirebon difasilitasi menjadi kawasan sentra mandiri dengan dukungan modal dan gudang, supaya nilai tambahnya tetap di daerah kami sendiri,” ungkap Nashori dengan nada kritis.

​Respons Pemerintah: Memutus Ketergantungan

​Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Deni, mengakui bahwa tantangan tata niaga masih menjadi PR besar bagi pemerintah daerah.

Baca Juga:Lumbung Padi Nasional: Keajaiban Panen Raya di Indramayu yang Sempat Kekeringan, Tuai Pujian dari WamentanPanen Ubi Jalar Kuningan Tembus 60 Ton Per Hektare, BAKTI TASKIN Amankan Harga Lewat Eksportir

Meskipun petani tetap meraup untung dengan margin yang layak (biaya produksi Rp15.000–Rp18.000 per kg), identitas daerah adalah hal yang tidak bisa ditawar.

​”Masukan dari kelompok tani menjadi perhatian serius kami. Ke depan, kami akan mendorong penguatan permodalan dan fasilitas pascapanen agar bawang merah Cirebon memiliki identitas sendiri dan tidak lagi sekadar menjadi pendukung nama daerah lain,” tutup Deni.(*)

0 Komentar