CIREBONINSIDER.COM – Sektor seni rupa di Kabupaten Cirebon selama ini sering dianggap “mati suri”, bergerak sporadis di tengah minimnya atensi formal.
Namun, sebuah gerakan progresif di Gedung Ruang Kreasi, Kecamatan Weru, membuktikan bahwa kreativitas tidak selamanya harus menadahkan tangan pada anggaran pemerintah.
Melalui pameran bertajuk “17 Pitulas”, puluhan seniman lokal melakukan aksi nyata menghidupkan ekosistem ekonomi kreatif.
Baca Juga:Pameran Temporer di Museum Tekstil, Angkat Eksotisme Batik Merawit Khas CirebonDigelar di Pendopo Bupati Cirebon, Pameran Keris Nasional Angkat Eksistensi Gaman Jawa Barat
Dibuka secara resmi pada Rabu (4/2/2026), gelaran ini menjadi simbol kemandirian kolektif Paguyuban Pelukis Cirebon yang bergerak tanpa kucuran dana APBD maupun APBN.
Kemandirian di Tengah Keterbatasan
Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cirebon, Amin Mughni, memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif ini.
Menurutnya, penyelenggaraan pameran di Gedung Ruang Kreasi, Jalan Otto Iskandardinata ini, murni hasil kolaborasi organik dan semangat gotong royong para seniman.
“Alhamdulillah, ini murni kolaboratif. Paguyuban Pelukis Cirebon berinisiatif secara mandiri. Ini menjadi spirit dan penyemangat bagi kami bahwa aktivasi ruang publik tidak selalu harus berbasis pada anggaran, melainkan pada keseriusan dan kerja sama,” tegas Amin di sela-sela pembukaan.
Amin menambahkan, langkah ini merupakan bagian dari visi strategis Disbudpar untuk menjadikan Ruang Kreasi sebagai episentrum interaksi pelaku ekonomi kreatif.
Harapannya, panggung lokal ini menjadi katalisator bagi seniman Cirebon untuk merambah level nasional hingga internasional.
Menepis Stagnasi Seni Rupa
Ketua Panitia Pameran, Guntur Alibasa, menyebut pameran “17 Pitulas” menampilkan sekitar 45 karya dari 20 seniman terpilih.
Baca Juga:FKSM 2025: Kementerian Kebudayaan Sukses Ubah Gudang Pelabuhan Cirebon Jadi Ruang Seni PublikFKSM 2025 di Cirebon, Rentang Lawang Buka Ruang Dialog Lintas Disiplin dan Budaya
Baginya, pameran ini adalah upaya “reanimasi” terhadap kondisi seni rupa di wilayah Cirebon yang sempat mengalami stagnasi.
“Selama ini seni rupa di Cirebon timbul tenggelam. Dengan kegiatan rutin seperti ini, kami ingin mendekatkan kembali masyarakat dengan seni rupa. Kami ingin memasyarakatkan seni,” ungkap Guntur.
Meski Cirebon belum didukung oleh institusi pendidikan seni rupa formal, Guntur optimis potensi seniman lokal tidak kalah saing dengan kota-kota besar seperti Jakarta, Solo, atau Surabaya.
Hal ini dibuktikan dengan rekam jejak pelukis Cirebon yang kerap melanglang buana di berbagai pameran bergengsi luar daerah.
