CIREBONINSIDER.COM – Memasuki hari kesembilan, operasi pencarian korban longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, menunjukkan progres signifikan namun memilukan.
Hingga Minggu (1/2/2026), Tim SAR Gabungan secara akumulatif telah mengevakuasi 74 kantong jenazah dari dasar material longsor.
Kini, fokus pencarian menyempit pada enam jiwa yang masih tertimbun, di tengah kondisi medan yang kian menantang dan faktor cuaca yang tidak menentu.
Baca Juga:Strategi Taktis KDM di Pasirlangu: Putus Trauma Pengungsian dengan Solusi Hunian CepatKolaborasi Lintas Batas di Longsor Pasirlangu: Chef Prancis dan DP3AKB Jabar Bersinergi Pulihkan Trauma Warga
Strategi Perluasan Area: Membedah Worksite A3
Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian, menjelaskan bahwa strategi pencarian kini telah bergeser ke arah perluasan zona terdampak.
Pada Minggu pagi, tim secara resmi membuka titik pencarian baru yang disebut sebagai Worksite A3.
”Kami terus mengevaluasi pergerakan tanah dan posisi hunian warga sebelum bencana. Pembukaan Worksite A3 terbukti efektif; dua jenazah kembali ditemukan di sana, sementara dua lainnya berhasil dievakuasi dari Worksite A2,” ungkap Ade Dian saat memberikan keterangan pers di lokasi bencana.
Kejar Target Identifikasi DVI
Seluruh kantong jenazah yang berhasil diangkat langsung diserahterimakan kepada tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jabar.
Proses identifikasi menjadi krusial mengingat kondisi fisik jenazah yang kian sulit dikenali secara visual setelah sembilan hari tertimbun.
Berdasarkan data terbaru hingga Minggu petang:- Total Evakuasi: 74 Kantong Jenazah.- Berhasil Diidentifikasi: 57 Korban.- Sisa Pencarian: 6 Orang.
Alat Berat Jadi Ujung Tombak di Tengah Hujan
Meski hujan sempat mengguyur wilayah Cisarua, operasi tetap bergulir. Ade menegaskan bahwa cuaca bukan lagi1 hambatan utama, melainkan faktor keamanan personel di lapangan.
Baca Juga:25 Korban Longsor Cisarua Masih Hilang: Evakuasi di Pasirlangu Masuki Babak PenentuanOperasi SAR 24 Jam di Cisarua: Menko PMK Kerahkan 5 Klaster Prioritas demi Selamatkan 83 Korban Longsor
Pada fase ini, penggunaan alat berat ditingkatkan secara intensif. ”Kami mengandalkan alat berat secara penuh. Pertimbangannya adalah efektivitas waktu dan kondisi fisik korban yang sudah tidak lagi sempurna setelah lebih dari sepekan tertimbun material berat,” jelasnya.
Sinergi Kemanusiaan yang Solid
Operasi di Pasirlangu menjadi potret kolaborasi masif antarinstansi. Ratusan personel dari Basarnas, TNI, Polri, kementerian terkait, hingga relawan lokal terus bersiaga.
”Seluruh unsur tetap bekerja secara profesional dan penuh dedikasi. Ini bukan sekadar tugas teknis, ini adalah misi kemanusiaan untuk memberikan kepastian bagi keluarga korban,” tutup Ade.(*)
