Bukan Tiru Norwegia, Prabowo Targetkan 'Kedaulatan Piring Makan' lewat Transformasi Asta Cita

Prabowo-Subianto-Asta-Cita
Presiden Prabowo Subianto saat memberikan arahan mengenai Strategi Transformasi Bangsa dan Asta Cita di SICC Bogor. Foto: Setneg RI

​CIREBONINSIDER.COM – Presiden Prabowo Subianto menegaskan arah pembangunan nasional tidak akan mengejar fatamorgana untuk sekadar menjadi negara berpendapatan tinggi (high income country) yang meniru model negara Barat. Sebaliknya, Presiden mematok target yang lebih membumi namun progresif: kualitas hidup rakyat yang nyata.

​Dalam pidato kuncinya di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Senin (02/02), Presiden Prabowo memaparkan strategi Transformasi Bangsa yang menempatkan pemenuhan kebutuhan dasar sebagai fondasi utama kemajuan Indonesia.

​Kesejahteraan yang Fungsional, Bukan Statistik

​Prabowo secara lugas menyebut bahwa tolok ukur kesuksesan pemerintahannya bukanlah kemiripan dengan negara-negara Nordik. Melainkan terjaminnya hak-hak dasar setiap individu masyarakat Indonesia.

Baca Juga:Prabowo Efek: Program Makan Bergizi Serap 1 Juta Tenaga Kerja, Aset Danantara Tembus US$ 1 TriliunMitigasi Banjir dan Perubahan Iklim, Kementan Racik Strategi Tanam Cerdas demi Swasembada Padi

​”Kita tidak bermimpi untuk menjadi high income country. Kita tidak bermimpi kita mau hidup seperti Norwegia atau Kanada. Kita hanya mau supaya semua rakyat kita hidup, kualitas hidupnya baik,” tegas Presiden Prabowo.

​Ia merinci bahwa kualitas hidup yang dimaksud mencakup tiga aspek krusial:

– ​Kecukupan Gizi: Makan sehat yang terjangkau bagi seluruh rakyat.

– ​Jaminan Kesehatan: Pelayanan medis yang dapat diandalkan.

– ​Akses Pendidikan: Kepastian anak-anak bangsa mendapatkan sekolah yang layak.

​Dua Pilar Kedaulatan: Pangan dan Energi

​Untuk mewujudkan visi tersebut, Presiden menginstruksikan implementasi delapan misi Asta Cita dan 17 program prioritas.

Di jantung strategi ini, terdapat dua pilar yang disebutnya sebagai “harga mati”: Swasembada Pangan dan Swasembada Energi.

​Menurut Prabowo, swasembada pangan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan syarat mutlak kemerdekaan.

“Kalau kita mau merdeka, kalau kita mau sejahtera, kita harus jamin produksi pangan. Swasembada pangan adalah pilar utama dari strategi kita,” imbuhnya.

​Senada dengan pangan, sektor energi juga menjadi perhatian serius. Presiden optimis bahwa Indonesia memiliki kekayaan sumber daya yang cukup untuk mandiri dan berhenti bergantung pada pihak luar.

Baca Juga:Dunia Terperangah, Swasembada RI Paksa Harga Beras Global Turun Tajam 44 PersenAkselerasi Swasembada Pangan: Polresta Cirebon Kelola 300 Hektare Lahan Jagung

​Membalik Arus Modal ke Pedesaan

​Langkah yang paling mencuri perhatian adalah komitmen Presiden untuk melakukan desentralisasi ekonomi secara radikal. Ia berencana menghentikan pola klasik di mana modal terus mengalir dari desa ke kota atau ke luar negeri.

​”Kita harus hentikan dan membalikkan aliran uang itu, antara lain dengan program Makan Bergizi Gratis. Anak-anak kita harus makan cukup,” ungkapnya.

0 Komentar