Siasat Baru PKE 2025: Ubah Gen Z Menjadi 'Mesin Baru' Ekonomi Digital Indonesia

AI-Open-Open-Innovation-Challenge
Deputi Kemenko Perekonomian Ali Murtopo Simbolon memberikan sambutan mengenai AI Open Innovation Challenge di Bandung sebagai bagian dari Paket Kebijakan Ekonomi 2025. Foto: Kemenko ekonomi RI

CIREBONINSIDER.COM – Pemerintah Indonesia resmi menggeser paradigma pasar kerja nasional. Tidak lagi terpaku pada struktur kerja kantoran konvensional, pemerintah kini bertaruh pada Gig Economy sebagai tulang punggung baru transformasi ekonomi.

Melalui Paket Kebijakan Ekonomi (PKE) 2025, Jawa Barat dipilih menjadi “medan tempur” utama untuk mencetak jutaan talenta digital yang adaptif.

​Dalam peluncuran Program Pelatihan Gig Economy bagi Gen Z dan AI Open Innovation Challenge di Bandung, Jumat (30/01), Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kemenko Perekonomian, Ali Murtopo Simbolon, menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan mandat langsung Presiden.

Baca Juga:Strategi Radikal Mentan Amran di Cisarua: Ubah Lereng Maut Jadi Sabuk Hijau Bernilai EkonomiTok! UMK Kota Cirebon 2026 Naik Jadi Rp2,87 Juta: Menguji Nyali Daya Beli di Tengah Tren Ekonomi Baru

Tujuannya jelas: memperluas lapangan kerja di 15 kota strategis yang telah ditetapkan.

​Jawa Barat: “The Silicon Valley” Indonesia?

​Bukan tanpa alasan Bandung dan Jawa Barat menjadi titik tolak. Provinsi ini adalah raksasa kreatif dengan kontribusi Rp310 triliun (20,73%) terhadap PDB ekonomi kreatif nasional.

Dengan lebih dari 6,24 juta tenaga kerja kreatif, Jawa Barat adalah talent pool terbesar yang siap diakselerasi menjadi pemain global.

​”Kita ingin generasi muda bukan sekadar penonton, tapi menjadi developer dan penyedia solusi digital bagi perusahaan nasional maupun global,” ujar Ali Murtopo di hadapan para peserta pelatihan.

​Visi USD 2 Triliun: Melampaui Sekadar ‘Kerja Freelance’

​Banyak pihak yang masih keliru menganggap Gig Economy sebatas layanan transportasi atau kurir. Dalam kerangka SEO Entity dan visi strategis pemerintah, ekosistem ini mencakup cakupan yang jauh lebih progresif:

– ​High-Value Skills: Fokus pada penguasaan software developer, AI specialist, hingga desainer kelas dunia.

– ​End-to-End Ecosystem: Tidak hanya pelatihan (skilling), pemerintah menyediakan co-working space hingga akses pasar kerja melalui marketplace digital.

Baca Juga:Proyeksi Ekonomi RI 2026: Sinyal Ekspansi 5,4% di Tengah Bayang-bayang Defisit FiskalGebrakan Davos: Prabowo 'Jual' Danantara US$ 1 Triliun dan Komitmen Babat Habis Ekonomi Keserakahan

– ​Global Connection: Menyiapkan fondasi talenta daerah untuk menyambut ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) yang diprediksi bernilai USD 2 triliun pada 2030.

​AI Open Innovation: Memburu Ide Segar Gen Z

​Melalui AI Open Innovation Challenge, pemerintah mencoba mendobrak kebuntuan birokrasi dengan membuka ruang seluas-luasnya bagi kreativitas pemuda.

Program ini dirancang sebagai New Engine Economy untuk mengurangi angka pengangguran terdidik secara drastis melalui integrasi kecerdasan buatan dalam solusi sosial dan ekonomi.

0 Komentar