Prabowo Perintahkan 'Bersih-bersih' Bursa: Sikat Manipulator Saham, Bidik Standar Kelas Dunia!

Airlangga-Hartarto
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto saat menyampaikan instruksi Presiden Prabowo terkait langkah tegas pemerintah menyikat manipulator saham dan pembenahan bursa. Foto: Kemenko ekonomi RI

CIREBONINSIDER.COM – Presiden Prabowo Subianto resmi mengirimkan sinyal “perang” terhadap praktik kotor di industri keuangan nasional. Hal itu untuk menjawab keresahan publik dan desakan parlemen terkait stabilitas pasar modal.

​Melalui instruksi tegas yang disampaikan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Pemerintah menegaskan tidak ada lagi ruang bagi spekulan dan manipulator harga yang merusak integritas Bursa Efek Indonesia (BEI).

Operasi “bersih-bersih” ini sekaligus menjadi jawaban atas sorotan DPR terkait rapuhnya fondasi struktural pasar saham belakangan ini.

Baca Juga:IHSG Jeblok dan Petinggi BEI Mundur, Hanif Dhakiri Desak OJK Rombak Total Tata Kelola Pasar ModalGebrakan 2026: Menkeu Purbaya Siapkan Pasar Modal Jadi Mesin Utama Ekonomi RI

​Zero Tolerance: Hantam Spekulan, Amankan Arus Modal

“Tidak ada toleransi bagi praktik spekulatif yang manipulatif,” tegas Airlangga Hartarto dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu (31/01).

​Pemerintah menyadari bahwa manipulasi harga bukan sekadar urusan portofolio, melainkan ancaman terhadap kredibilitas Penanaman Modal Asing (FDI).

BEI bersama aparat penegak hukum kini diperintahkan melakukan penegakan aturan tanpa pandang bulu dan bebas intervensi.

​3 Pilar Transformasi Menuju Bursa Modern

Presiden Prabowo menginstruksikan tiga langkah radikal untuk menyejajarkan BEI dengan standar bursa internasional:

1. ​Likuiditas Agresif: Menaikkan batas minimum free float saham publik menjadi 15 persen agar pasar tidak mudah didikte segelintir kelompok.

2. ​Transparansi Radikal: Pengetatan aturan beneficial ownership untuk menyisir transaksi “bawah tangan”.

3. ​Reformasi Struktural: Percepatan demutualisasi bursa demi menciptakan tata kelola (GCG) yang lebih lincah.

Baca Juga:Optimisme Pasar Modal Melonjak, Transaksi Saham di Ciayumajakuning Tembus Rp2,39 TriliunSiasat Baru PKE 2025: Ubah Gen Z Menjadi 'Mesin Baru' Ekonomi Digital Indonesia

​Benteng Ekonomi Tetap Kokoh

Di tengah operasi pembenahan ini, Pemerintah memastikan fundamental ekonomi Indonesia tetap dalam posisi “benteng” yang stabil.

Per Januari 2026, Pertumbuhan Ekonomi bertahan di 5,04 persen dengan Cadangan Devisa kuat di angka USD 156,5 Miliar.

​”Pemerintah berdiri teguh di belakang pasar keuangan kita. Kami berkomitmen pada iklim investasi yang transparan, adil, dan berkelas dunia,” pungkas pesan tertulis Presiden Prabowo. (*)

0 Komentar