CIREBONINSIDER.COM– Penanganan pascabencana tanah longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), menunjukkan wajah kolaborasi yang luar biasa.
Di balik tumpukan material tanah yang menghancurkan pemukiman, muncul sebuah sinergi unik: otoritas pemerintah Jawa Barat bersatu dengan keahlian kuliner mancanegara untuk membasuh luka batin para penyintas.
Langkah progresif ini tidak hanya berfokus pada pemulihan fisik. Melainkan upaya terintegrasi untuk mengembalikan martabat dan kesehatan mental warga yang terdampak.
Baca Juga:25 Korban Longsor Cisarua Masih Hilang: Evakuasi di Pasirlangu Masuki Babak PenentuanStrategi Radikal Mentan Amran di Cisarua: Ubah Lereng Maut Jadi Sabuk Hijau Bernilai Ekonomi
Psychological First Aid: P3K Mental untuk Penyintas
Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Jawa Barat memimpin garis depan dalam pemulihan trauma.
Mereka menerjunkan tim untuk memberikan Psychological First Aid (PFA) atau dukungan psikologis awal bagi warga yang kehilangan segalanya—harta benda, tempat tinggal, hingga mata pencaharian.
Kepala DP3AKB Jawa Barat, Siska Gerfianti, menegaskan bahwa kehadiran mereka bertujuan untuk memastikan respons stres warga tidak berkembang menjadi gangguan trauma permanen.
“Kami hadir secara empatik, mendengarkan aktif, dan memastikan rasa aman. Khususnya bagi 203 perempuan dan 78 anak-anak di pengungsian, kami menghubungkan mereka dengan sumber bantuan dan pemenuhan kebutuhan dasar,” ungkap Siska, Kamis (29/1/2026).
Kolaborasi ini diperkuat oleh jejaring luas, mulai dari konselor PUSPAGA Balarea, Forum Anak Daerah (FAD), hingga Motivator Ketahanan Keluarga (Motekar), guna memperkuat daya pulih (resilience) sosial masyarakat.
Aksi Kemanusiaan dari Dapur: Sentuhan David Cailleba
Di sisi lain posko pengungsian, aroma masakan rumahan yang hangat menjadi penawar duka.
Di sana, David Cailleba, seorang chef asal Prancis, tampak sibuk berbaur dengan anggota Indonesia Chef Association (ICA) dan tim Tagana. Jauh dari kemewahan restoran, David memilih berjibaku di dapur darurat untuk menyajikan hidangan bagi para korban.
Baca Juga:Strategi "Twin-Track" di Longsor Cisarua: Integrasi Satelit Orbit Rendah dan Mitigasi TraumaKDM Instruksikan Lereng Cisarua Jadi Hutan: Warga Direlokasi, Sayur Tak Lagi Boleh Ditanam
Menariknya, David sama sekali tidak menonjolkan ego kulinernya. Ia justru melebur dengan budaya lokal, memasak menu ayam bumbu manis hingga terong balado.
“Karena ini di Bandung Barat, otomatis kami sesuaikan dengan masakan Sunda. Saya di sini juga belajar, mengambil ilmu dan trik dari rekan-rekan relawan lokal,” ujar David.
