CIREBONINSIDER.COM – Di balik kabut pagi Hambalang, sebuah cetak biru besar bagi masa depan intelektual Indonesia sedang dimatangkan.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh lagi hanya menjadi konsumen teknologi, melainkan harus menjadi produsen lewat penguasaan sains tingkat tinggi.
Selasa (27/1/2026), Presiden memanggil jajaran menteri Kabinet Merah Putih ke kediamannya. Agendanya tunggal dan mendesak: Memastikan proyek pembangunan 10 kampus kesehatan dan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) hasil kolaborasi dengan universitas elite Inggris Raya berjalan tanpa hambatan birokrasi.
Baca Juga:Diplomasi 'Hasil Nyata' Prabowo di Inggris: Amankan Investasi Rp90 T hingga Bangun 10 Kampus STEMPresiden Prabowo Instruksikan Reorientasi LPDP: Fokus Agresif pada STEM dan Reformasi Medis
Bukan Sekadar Kerja Sama, Tapi Transfer Teknologi
Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya memberikan sinyal bahwa pertemuan ini bersifat strategis-instruktif.
Presiden ingin memastikan kolaborasi dengan Inggris bukan sekadar pertukaran pelajar biasa, melainkan pembangunan infrastruktur riset langsung di tanah air.
”Presiden Prabowo mendalami langsung tindak lanjut ini. Fokusnya jelas: SDM unggul. Kita tidak sedang membicarakan rencana jangka panjang yang abstrak, tapi langkah konkret untuk kemandirian bangsa,” tegas Teddy dalam pernyataan tertulisnya.
Mengapa Harus STEM dan Inggris Raya?
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, melaporkan bahwa respons dari pihak Inggris sangat positif. Namun, mengapa bidang ini begitu krusial bagi pemerintah saat ini?
1. Kedaulatan Kesehatan: Belajar dari sejarah, riset medis mandiri adalah harga mati bagi ketahanan nasional.
2. Mesin Ekonomi Baru: Sektor STEM adalah tulang punggung Industri 4.0 dan ekonomi hijau yang menjadi target pertumbuhan ekonomi 8%.
3. Standar Global di Tanah Air: Membawa “DNA” kampus Inggris ke Indonesia akan menekan angka brain drain (larinya talenta lokal ke luar negeri) sekaligus menciptakan ekosistem riset berstandar internasional.
Baca Juga:Cetak Biru Industri: Strategi 'Big Bang' Prabowo dari Revitalisasi Garmen hingga Ekosistem SemikonduktorAnggaran Pendidikan 2026 Tembus Rp769,1 T: Taruhan Digitalisasi dan Akhir Era 'Guru Honorer Terabaikan'?
Analisis: Diplomasi Pendidikan ‘Ala’ Hambalang
Langkah Prabowo mengumpulkan menteri di kediaman pribadinya—bukan di Istana—menunjukkan bahwa isu pendidikan tinggi telah naik kelas menjadi isu Ketahanan Nasional.
Dengan menggandeng Inggris, Indonesia sedang melakukan strategi leapfrogging atau “lompatan katak” untuk mengejar ketertinggalan teknologi dalam waktu singkat.
Pertemuan ini mencerminkan pendekatan kepemimpinan yang decisive. Prabowo menyadari bahwa untuk menjadi negara maju, Indonesia membutuhkan “pasukan ilmuwan” sebanyak mereka membutuhkan stabilitas ekonomi.(*)
