CIREBONINSIDER.COM – Kesenjangan kualitas dan efisiensi layanan kesehatan antara Indonesia dan Malaysia kembali menjadi tamparan keras bagi industri domestik.
Anggota Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR RI, Irma Suryani, menyuarakan keprihatinannya atas fenomena “eksodus” pasien asal Indonesia yang masih menjadikan Penang, Malaysia, sebagai rujukan utama pengobatan.
Dalam kunjungan kerjanya ke Murni Teguh Memorial Hospital (MTMH) Medan, Selasa (27/1), legislator dari Fraksi NasDem ini menegaskan bahwa tantangan ini bukan soal kompetensi dokter, melainkan kegagalan ekosistem layanan kesehatan di tanah air dalam memberikan kenyamanan dan kepastian biaya.
Baca Juga:Cirebon Gagal UHC 2025: DPRD 'Suntik' Dana Pokir demi Selamatkan Jaminan Kesehatan WargaGotong Royong, Jabar Wajibkan ASN hingga Siswa Donasi Rp1.000 untuk Kesehatan dan Pendidikan Darurat
Paradoks Biaya dan Birokrasi: Mengapa Penang Lebih Menarik?
Bukan rahasia lagi jika warga Sumatera, khususnya Medan, lebih memilih menyeberang ke semenanjung Malaysia. Menurut Irma, Penang unggul dalam hal efisiensi birokrasi dan transparansi.
”Kita harus jujur, di sana proses pendaftaran hingga konsultasi itu sangat cepat dan terstruktur. Tidak ada antrean panjang yang melelahkan seperti yang sering kita temukan di sini,” ujar Irma dengan nada lugas.
Lebih jauh, Irma menyoroti anomali harga. Banyak pasien menemukan bahwa total biaya tindakan medis serius di Penang justru lebih terjangkau dan “masuk akal” dibandingkan RS swasta kelas premium di Indonesia.
Padahal, secara geografis, Medan memiliki modal kuat untuk menjadi pusat medis (medical hub) di wilayah Sumatera.
Hospitality: Senjata Rahasia yang Terabaikan
Irma, yang juga bertugas di Komisi IX DPR RI (Bidang Kesehatan), menekankan bahwa RS domestik seringkali melupakan aspek hospitality atau keramahan.
Bagi pasien, kesembuhan bukan hanya soal obat, tapi juga ketenangan psikologis saat berinteraksi dengan staf medis.
”RS Murni Teguh Medan dan RS lainnya di Indonesia harus berani melakukan transformasi total. Jangan hanya modern di alat, tapi sistem informasinya ribet. Pelayanan harus ramah dan suportif agar pasien merasa aman dan dihargai, bukan sekadar menjadi angka,” tambahnya.
Baca Juga:Pemkot Cirebon Sapa Warga Pegambiran, Hadirkan Layanan Kesehatan, BPJS, hingga Pembuatan SIMKDM Sebut Tunggakan Pemprov Jabar ke BPJS Kesehatan Aman, Dianggarkan pada APBD Perubahan 2025
Jeritan RS Domestik: Pajak Barang Mewah Jadi Penghambat
Merespons kritik tersebut, pihak manajemen RS Murni Teguh mengungkap akar masalah dari tingginya biaya operasional di Indonesia.
