CIREBONINSIDER.COM – Alam kembali mengirimkan peringatan keras ke pesisir Utara Jawa. Akibat intensitas hujan ekstrem di wilayah hulu, Sungai Cimanuk tak lagi mampu menampung beban debit air.
Hasilnya, Sabtu (24/1/2026) dini hari menjadi momen mencekam bagi ribuan warga Kabupaten Indramayu saat air mulai merangsek masuk ke ruang tamu mereka.
Anatomi Krisis: Bukan Sekadar Hujan Biasa
Banjir kali ini bukan sekadar kiriman air lewat. Berdasarkan data terbaru BPBD Kabupaten Indramayu, bencana ini dipicu oleh kegagalan struktural: tanggul Sungai Cimanuk jebol dan penurunan elevasi sungai yang signifikan.
Baca Juga:Mitigasi Banjir dan Perubahan Iklim, Kementan Racik Strategi Tanam Cerdas demi Swasembada PadiIndramayu Dikepung Banjir, Bupati Lucky Hakim Instruksikan Proyek Tanggul 13 KM Mulai Februari
Kondisi ini diperparah dengan rusaknya saluran pembuang (drainase) yang justru memerangkap air di pemukiman, bukannya mengalirkannya kembali ke sungai. Hingga data terakhir diperbarui, ketinggian air terpantau fluktuatif di angka 30 hingga 60 cm.
Peta Wilayah Terdampak: 3 Kecamatan Dalam Kepungan
Dampak luapan Cimanuk ini terdistribusi di tiga titik nadi Kabupaten Indramayu:
– Kecamatan Kertasemaya: (Titik terparah) Meliputi Desa Tulungagung, Kertasemaya, dan Kliwed.
– Kecamatan Jatibarang: Melanda kawasan padat di Desa Sukalila.
– Kecamatan Lohbener: Berdampak langsung pada warga di Desa Rambatan Kulon.
Secara akumulatif, 2.411 jiwa terdampak langsung dengan 604 unit rumah serta 7 fasilitas umum terendam. Sebanyak 48 warga terpaksa meninggalkan rumah mereka untuk mengungsi ke tempat ibadah dan kediaman kerabat demi keselamatan nyawa.
Respons Cepat dan Mitigasi Darurat
Di lapangan, alat berat mulai menderu. Dinas PUPR Indramayu bersama BBWS Cimanuk Cisanggarung telah mengerahkan 4 unit ekskavator untuk melakukan penanganan bedah darurat pada tanggul jebol.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Indramayu, Drs. Dadang Oce Iskandar, menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah manajemen pengungsian dan percepatan teknis.
”Prioritas kami adalah keselamatan warga. Sambil menunggu air surut total, tim gabungan terus bersiaga. Kami minta masyarakat jangan lengah terhadap potensi hujan susulan,” ujar Dadang Oce saat memberikan keterangan resmi, Senin (26/1/2026).
Urgensi Normalisasi Permanen
Meski dapur umum dan posko di Blok Rengaspayung telah berdiri, banjir berulang ini memberikan catatan tebal bagi pemangku kebijakan. Perbaikan darurat menggunakan ekskavator hanyalah “plester” sementara.
