CIREBONINSIDER.COM – Di tengah kepungan cuaca ekstrem yang sulit ditebak, stabilitas produksi padi nasional kini berada di titik krusial.
Merespons tantangan tersebut, Kementerian Pertanian (Kementan) bergerak cepat dengan mengorkestrasi strategi “Tanam Cerdas”—sebuah langkah adaptif untuk mengamankan lumbung pangan dari ancaman banjir dan gagal panen.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman secara konsisten menegaskan bahwa perubahan iklim bukan sekadar isu lingkungan, melainkan ancaman kedaulatan.
Baca Juga:Sapu Bersih 'Serakahnomics', Said Didu: Mentan Amran Hancurkan Hegemoni Oligarki PanganMentan Amran-Polri Tabuh Genderang Perang: Mafia Pangan Menjelang Ramadan 2026 Terancam Pidana Mati?
Ketidakpastian musim tanam akibat fluktuasi cuaca ekstrem menuntut mitigasi yang presisi, bukan sekadar antisipasi di atas kertas.
”Kita harus melakukan mitigasi risiko agar dampaknya tidak mengganggu ketahanan pangan,” ujar Mentan Amran.
Literasi Iklim: Senjata Baru SDM Pertanian
Sejalan dengan arahan Mentan, Kepala BPPSDMP Idha Widi Arsanti menginstruksikan penguatan kapasitas SDM pertanian.
Menurutnya, petani dan penyuluh harus menjadi “pembaca alam” yang mahir agar mampu beradaptasi dengan perubahan pola curah hujan yang kian anomali.
Langkah konkret ini diwujudkan melalui Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Manokwari lewat Millennial Agriculture Forum (MAF) Volume 7 Edisi 4 bertema “Antisipasi Banjir dan Perubahan Iklim: Strategi Tanam Cerdas untuk Meningkatkan Produksi Padi”, Sabtu (24/01/26).
Forum ini menjadi kawah candradimuka bagi generasi milenial untuk membedah solusi teknis pertanian berbasis iklim.
Kolaborasi Pakar: Dari Data ke Lahan
Dalam forum tersebut, tiga pilar utama dibedah untuk memperkuat resiliensi pertanian:
Baca Juga:Negara 'Gaji' Petani Korban Bencana: Strategi Mentan Amran Pulihkan 98 Ribu Hektare Sawah di SumateraMentan Amran Siapkan Rp6,5 Triliun ‘Operasi Darurat’ Pulihkan Lumbung Pangan Sumatera
1. Penguasaan Klimatologi: Guru Besar Unipa, Prof. Dr. Antonius Suparno, menekankan bahwa data cuaca adalah kompas utama. “Perubahan iklim itu nyata. Memahami prediksi cuaca berarti melakukan antisipasi dini, bukan sekadar bereaksi saat bencana datang,” tegasnya.
2. Infrastruktur Terintegrasi: Pengamat Meteorologi Fadri Prasetya menyebut iklim sebagai threat multiplier. Solusinya harus hulu-hilir: mulai dari normalisasi sungai, sistem peringatan dini, hingga adaptasi berbasis alam.
3. Akselerasi Mekanisasi: Feri Irawan dari Brigade Pangan Sejahtera 1 membuktikan bahwa kecepatan olah lahan adalah kunci. Dengan dukungan Alat Mesin Pertanian (Alsintan), petani bisa mencuri start musim tanam sebelum puncak hujan ekstrem tiba.
Optimalisasi Lahan: Pantang Menyerah pada Cuaca
Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Muhammad Amin, menutup diskusi dengan optimisme tinggi. Ia menegaskan bahwa target swasembada pangan harus tetap berjalan meski diadang tantangan iklim.
