Sumbat Celah Mafia Obat, Pemkot Cirebon Perketat Standar CDOB 2025: Keselamatan Pasien Harga Mati

Siti-Farida-Rosmawati
Wakil Wali Kota Cirebon Siti Farida Rosmawati memberikan sambutan mengenai standar CDOB 2025 dan ancaman resistensi antimikroba di acara GP Farmasi Cirebon. Foto: Humas Pemkot Cirebon

CIREBONINSIDER.COM – Praktik kefarmasian di Kota Cirebon kini memasuki era baru yang lebih ketat. Bukan sekadar urusan teknis medis, seluruh praktisi farmasi kini dituntut memegang tanggung jawab moral untuk memberikan literasi jujur guna membendung ancaman penyalahgunaan obat dan resistensi medis.

​Hal tersebut ditegaskan Wakil Wali Kota Cirebon, Siti Farida Rosmawati, saat membuka Sosialisasi Standar Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) dan mitigasi Antimicrobial Resistance (AMR) di Q Garden, Kamis (22/1/2026).

​Memutus Rantai Distribusi yang ‘Lalai’

​Farida menegaskan bahwa distribusi obat adalah rantai penyelamat nyawa, bukan sekadar komoditas dagang.

Baca Juga:Kota Cirebon UHC 100 Persen: Anggaran Rp38 Miliar Cair, Berobat Kini Cukup Pakai KTPSiti Farida: Kerukunan di Cirebon Bukan Sekadar Jargon, Tapi 'Early Warning System'

Dengan diterapkannya Standar CDOB 2025, Pemkot Cirebon ingin memastikan integritas produk dari hulu hingga hilir tetap terjaga tanpa kompromi.

​”Farmasi adalah garda terdepan pelindung warga. Kita tidak bicara soal transaksi, tapi soal amanah keselamatan publik. Jangan ada ruang bagi distribusi gelap atau lalai yang bisa merusak kesehatan masyarakat secara permanen,” tegas Farida dengan nada lugas.

​Menurutnya, kepatuhan terhadap regulasi terbaru bukan lagi pilihan bagi apotek maupun distributor (PBF), melainkan kewajiban mutlak untuk menjamin sediaan farmasi di Cirebon tetap aman, bermutu, dan bermanfaat.

​AMR: Ancaman ‘Pandemi Senyap’ di Balik Meja Apotek

​Selain masalah logistik, isu Antimicrobial Resistance (AMR) atau resistensi antibiotik menjadi sorotan utama.

Farida mengingatkan bahwa ketidakdisiplinan tenaga farmasi dalam mengontrol antibiotik dapat melumpuhkan sistem pengobatan di masa depan.

​”Jangan sampai kita terjebak dalam rutinitas administratif. Saya ingin seluruh fasilitas farmasi di Cirebon membuktikan komitmen mereka: orientasi penuh pada keselamatan pasien, bukan sekadar angka penjualan,” tambahnya.

​BBPOM Bandung: Sinergi Adalah Keniscayaan

​Senada dengan kebijakan daerah, Kepala Balai Besar POM (BBPOM) di Bandung, I Made Bagus Gerameta, memberikan apresiasi atas sinergi kolektif di Kota Cirebon.

Baca Juga:Makin Mudah, Warga Indramayu Berobat Cukup Gunakan KTPPemkab Kuningan Pastikan Info Pengobatan Ida Dayak di GOR Ewangga Hoax

Ia menyebut peran GP Farmasi sangat vital sebagai jembatan antara regulator dan pelaku usaha.

​”Penggunaan antibiotik yang tidak rasional adalah pemicu utama resistensi global. Tanpa penerapan CDOB yang ketat dan pelayanan beretika dari rekan-rekan di lapangan, efektivitas pengobatan akan terus merosot,” ungkap I Made Bagus.

0 Komentar