CIREBONINSIDER.COM – Istana Kepresidenan mengambil langkah drastis menghadapi krisis mobilitas akibat cuaca ekstrem yang mengepung Jakarta.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, tidak hanya menyampaikan permohonan maaf atas lumpuhnya aktivitas warga, tetapi juga membongkar rencana besar: Audit total tata kelola air Pulau Jawa.
Langkah ini menandai pergeseran paradigma pemerintah dari sekadar “reaksi terhadap banjir” menjadi “restorasi ekosistem strategis.”
Baca Juga:Atasi Banjir Tahunan Kalijaga, Pemkot Cirebon dan BBWS Permanenkan Normalisasi Sungai CikenisBanjir Kepung 8 Kecamatan di Cirebon, Wabup Jigus Ungkap Temuan Mengejutkan di Sungai
Intervensi Langit: Memecah Awan di Jabodetabek
Pemerintah menyadari bahwa doa dan kesabaran saja tidak cukup. Menjelang puncak curah hujan akhir Januari 2026, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) ditingkatkan secara masif.
Kolaborasi lintas lembaga antara BNPB, BMKG, dan Pemprov DKI Jakarta kini bekerja 24 jam untuk membelokkan intensitas hujan dari wilayah padat penduduk.
”Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Fokus jangka pendek kami adalah menambah kekuatan modifikasi cuaca. Awan hujan harus kita pecah sebelum masuk ke jantung kota,” ujar Prasetyo Hadi di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis (22/1/2026).
Instruksi Khusus dari Luar Negeri: Tim Kajian Lintas Sektoral
Meski sedang menjalankan agenda kenegaraan di luar negeri, Presiden memantau perkembangan banjir secara real-time.
Prasetyo mengungkapkan bahwa Presiden telah menginstruksikan pembentukan tim khusus yang diisi oleh Bappenas, Kemenko Infrastruktur, hingga Kementerian ATR/BPN.
Tim ini bertugas menyusun Grand Design pengelolaan air yang tidak lagi bersifat lokal, melainkan mencakup seluruh daratan Jawa. Ada tiga pilar utama yang menjadi sorotan tajam Istana:
1. Restorasi Reservoir Alami: Mengembalikan fungsi 800 situ dan danau yang hilang di Jabodetabek (dari 1.000 titik kini tersisa hanya 200).
Baca Juga:Cirebon Darurat Banjir: 24 Desa Terendam, Jalur Utama Lumpuh, hingga Gudang Surya Toserba JebolBPBD Ungkap Biang Kerok Banjir Cirebon: Luapan 3 Sungai Kunci Rendam 3.864 Rumah di 10 Kecamatan
2. Audit Tata Ruang Hilir: Normalisasi Daerah Aliran Sungai (DAS) yang mengalami pendangkalan kritis.
3. Benteng Pesisir: Percepatan proyek Giant Sea Wall sebagai solusi integratif di Pantai Utara Jawa.
Analisis: Memangkas Ego Sektoral demi Kedaulatan Lahan
Keterlibatan entitas seperti PT KAI dalam tim ini menunjukkan sudut pandang baru. Banjir bukan lagi sekadar masalah genangan, melainkan ancaman terhadap infrastruktur strategis nasional.
Istana mengakui bahwa hilangnya “parkir air” alami (situ/danau) memaksa beban drainase buatan melampaui batas maksimum.
